Iqbal Musyaffa
15 April 2020•Update: 16 April 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa perdagangan Indonesia dengan China berangsur pulih, menyusul aktivitas ekonomi China yang mulai membaik setelah terdampak penyebaran virus korona (Covid-19).
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kondisi tersebut terlihat dari peningkatan ekspor dan impor Indonesia dengan China.
Pada Februari ekspor masih sebesar USD1,87 miliar, dan Maret meningkat menjadi USD1,98 miliar.
Sehingga pada bulan Maret terjadi peningkatan ekspor Indonesia ke China sebesar USD103,6 juta.
“Nilai ekspor pada Maret ini juga lebih besar dari Maret 2019 yang sebesar USD1,97 miliar,” ujar Suhariyanto dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu.
Dia mengatakan peningkatan ekspor Indonesia ke China utamanya berasal dari tembaga dan barang-barang dari tembaga, serta lemak dan minyak hewan nabati.
Sementara itu, Suhariyanto mengatakan pada Maret ini terjadi peningkatan impor Indonesia secara signifikan dari China sebesar USD1 milar dari bulan Februari yang sebesar USD1,98 miliar menjadi USD2,98 miliar.
“Recovery di China sangat cepat sehingga impor mulai meningkat,” imbuh dia.
Kemudian, China juga masih menjadi pangsa ekspor terbesar Indonesia untuk periode Januari-Maret sebesar USD5,97 miliar atau 15,11 persen dari total ekspor sementara untuk pangsa impor China masih mendominasi sebesar USD8,91 miliar atau 26,34 persen dari total impor Indonesia.
Suhariyanto menambahkan pada periode Januari-Maret 2020, Indonesia masih mencatatkan defisit neraca perdagangan dengan China sebesar USD2,94 miliar.
Namun, jumlah defisit tersebut membaik dari total defisit perdagangan dengan China pada 2019 lalu yang mencapai USD5,18 miliar.