Iqbal Musyaffa
05 Maret 2020•Update: 05 Maret 2020
JAKARTA
Pemerintah mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit agar pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan bisa terjaga di tengah gejolak ekonomi akibat penyebaran virus korona.
Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah telah memberikan stimulus kebijakan paket ekonomi pertama, sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia yang juga telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen, serta Otoritas Jasa Keuangan yang melonggarkan risiko premium kredit dari 3 pilar menjadi 1 pilar.
“Kami mendengarkan masukan dari para stakeholder CEO perbankan dan menyampaikan prioritas pemerintah dengan stimulus paket pertama dan kemudian kebijakan yang diambil BI dan OJK yang harapannya transmisi penurunan suku bunga BI bisa dirasakan oleh masyarakat,” ujar Menko Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Menko Airlangga mengatakan selain transmisi suku bunga, dalam pertemuan dengan perbankan tersebut pemerintah juga menyampaikan langkah untuk mendorong sektor riil tetap tumbuh di tengah situasi ekonomi saat ini.
Dia juga mengatakan saat ini pemerintah berencana mengeluarkan paket kebijakan ekonomi kedua mengenai kegiatan ekspor dan impor.
Selain itu, Menko Airlangga mengatakan pemerintah telah menaikkan subsidi bunga KUR dan plafon kredit menjadi Rp190 triliun serta memprioritaskan pembiayaan untuk replanting kelapa sawit melalui KUR untuk 500 ribu hektare lahan.
“Value chain dan cluster wholeseller (grosir) dan ritel juga diperhatikan karena jadi backbone perekonimian nasional,” jelas Menko Airlangga.
Dia mengatakan perbankan juga akan memberikan dukungan karena 56 persen ekonomi digerakkan oleh pasar dari dalam negeri.
Sementara Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Sunarso menambahkan pemerintah dan industri perbankan berkomitmen memberikan sejumlah kebijakan insentif fiskal untuk mmenjaga pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.
Terlebih lagi Bank Indonesia telah memberikan insentif moneter dengan penyediaan likuiditas dan pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) serta penurunan suku bunga acuan.
“Kami dari Himbara dan perbankan berkolaborasi untuk merespon kebijakan ini agar transmisi cepat dan efektif menjaga level pertumbuhan,” ujar Sunarso.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar mengatakan perbankan telah banyak mendengarkan arahan dan diskusi dengan pemerintah, BI, dan OJK untuk menopang likuiditas dan kualitas kredit.
“Perbankan telah banyakberusaha lakukan percepatan penyaluran kredit dengan platform digital,” kata Royke.
Menurut dia, yang terpenting bagi perbankan adalah kualitas kredit yang sehat serta ketersediaan likuiditas yang sudah direspon sangat baik oleh BI dan OJK.