İqbal Musyaffa
13 Agustus 2018•Update: 14 Agustus 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Krisis yang terjadi di Turki dengan depresiasi nilai tukar lira terhadap dolar hingga 42 persen dalam satu tahun menurut Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang, berpotensi menimbulkan efek bola salju terhadap perekonomian global.
Kepada Anadolu Agency, Senin, Edwin mengatakan bahwa krisis Turki dapat mengulangi masa kelam krisis ekonomi global di tahun 1998. “Besarnya pengaruh terhadap ekonomi global tergantung pada bagaimana pemerintah Turki menangani krisis ini,” lanjut Edwin.
Menurut dia, perekonomian Eropa akan menjadi yang paling pertama terkena efek krisis di Turki. Perbankan di tiga negara Eropa saja seperti Spanyol, Perancis, dan Italia memiliki exposure penyaluran kredit hingga USD138 miliar kepada Turki.
“Apabila terjadi kredit macet, maka potensi snowball effect semakin besar,” imbuh Edwin.
Sementara itu, Edwin juga mengatakan krisis Turki sedikit banyaknya juga akan sangat memengaruhi perekonomian Indonesia. Hal tersebut karena struktur ekonomi dan pemerintahan Turki tidak jauh berbeda dengan Indonesia, meskipun Indonesia masih sedikit lebih baik.
“Defisit transaksi berjalan Turki 5,3 persen dari PDB, jauh lebih buruk dari Indonesia yang masih di bawah 3 persen,” ujar dia.
Krisis lira menurut dia membuat rupiah juga terus tertekan akibat dolar yang semakin menguat. Apabila rupiah terjun bebas hingga Rp15 ribu, maka perekonomian Indonesia juga akan seperti Turki.
“Sekarang tergantung kekuatan BI untuk melakukan intervensi. Devisa kita sudah banyak terkuras untuk stabilisasi rupiah dan cadangan devisa pun semakin rendah,” lanjut dia.
Apabila rupiah semakin tergerus, maka ada potensi terjadinya kepanikan di pasar bond. Para pemegang bond akan berbondong-bondong menjual bondnya sehingga akan terjadi arus modal keluar yang semakin besar.
“Seperti Turki, kita juga saat ini menghadapi capital outflow,” ucap Edwin.
Bahkan, menurut dia, IHSG juga terkena dampak krisis Turki dan sulit untuk bisa kembali menguat. Hingga pukul 10.00, IHSG tergerus 2,93 persen dari pembukaan ke level 5.898,942.
“Tekanan terhadap IHSG karena pelemahan nilai tukar lira. Dan IHSG sulit menguat pada minggu ini,” lanjut dia.