JAKARTA
Nilai ekspor Indonesia pada bulan September sebesar USD14,1 miliar, mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Selasa.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan total ekspor tersebut turun 1,29 persen dari bulan Agustus yang senilai USD14,28 miliar.
“Namun, bila dibandingkan dengan September tahun lalu, penurunan ekspor lebih dalam lagi, yakni 5,17 persen dari jumlah USD14,96 miliar,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers, Selasa.
Dia menjelaskan penurunan ekspor ini akibat dari turunnya ekspor migas dari bulan sebelumnya sebesar 5,17 persen dari USD0,88 miliar menjadi USD0,83 miliar.
Sementara ekspor nonmigas pada September juga turun 1,03 persen dari bulan Agustus yang sebesar USD13,41 miliar menjadi USD13,27 miliar.
Pada ekspor nonmigas bila dirinci, hanya sektor pertanian dan pertambangan yang mengalami peningkatan ekspor dari bulan sebelumnya.
Ekspor sektor pertanian tumbuh 5,27 persen month to month dan 12,24 persen year on year pada September menjadi USD0,36 miliar.
Sementara ekspor sektor pertambangan mampu tumbuh 13,03 persen secara bulanan atau month to month (mtm), namun secara tahunan atau year on year (yoy) turun 14,82 persen menjadi USD2,06 miliar.
“Komoditas ekspor pertambangan yang naik secara bulanan adalah bijih tembaga, bijih logam lainnya, batubara, dan bijih timah. Sementara yang turun secara tahunan adalah bijih tembaga dan lignit,” urai Suhariyanto.
Kemudian untuk ekspor sektor industri pengolahan mengalami kontraksi secara bulanan sebesar 3,51 persen dan kontraksi secara tahunan sebesar 0,44 persen menjadi USD10,85 persen.
“Ekspor industri pengolahan yang turun antara lain logam mulia, pakaian jadi tekstil, serta kendaraan bermotor roda 4 dan lebih,” kata Suhariyanto.
Dia menambahkan pada September ini terjadi komposisi ekspor nonmigas sebesar 94,11 persen sementara migas hanya 5,89 persen.
Berdasarkan HS dua digit, peningkatan ekspor terbesar antara lain bijih, kerak, dan abu logam (HS 26) sebesar USD267 juta, lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) sebesar USD160,5 juta, serta besi dan baja (HS 72) sebesar USD119,5 juta.
Sementara ekspor yang mengalami penurunan adalah perhiasan/permata (HS 71) sebesar USD272,4 juta, kendaraan dan bagiannya (HS 87) sebesar USD85,1 juta, serta pakaian jadi bukan rajutan (HS 62) sebesar USD78,2 juta.
Bila dilihat berdasarkan negara tujuan, peningkatan ekspor pada September terjadi untuk tujuan China sebesar USD136,4 juta, Taiwan USD73,7 juta, dan India USD56 juta.
Kemudian penurunan ekspor terjadi untuk tujuan Amerika Serikat sebesar USD113,1 juta, Swis USD91,9 juta, dan Hongkong USD63,9 juta.
“Kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian memengaruhi kinerja ekspor Indonesia,” kata Suhariyanto.
Menurut dia, Indonesia dihadapkan pada persoalan yang terjadi di negara tujuan ekspor utama seperti China, Amerika Serikta, dan Jepang yang sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dampaknya, permintaan impor asal Indonesia berkurang.