Adelline Tri Putri Marcelline
05 Mei 2021•Update: 06 Mei 2021
JAKARTA
Pemerintah Indonesia optimistis perekonomian nasional akan kembali tumbuh positif pada kuartal II dan kuartal berikutnya di tahun 2021.
Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Arif Budimanta mengatakan, meskipun pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun 2021 mengalami kontraksi 0,74 persen secara tahunan namun trennya terus membaik jika dibandingkan dengan kuartal-kuartal sebelumnya.
Dia menjelaskan, secara tahunan, pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II 2020 minus 5,32 persen, kuartal III 2020 minus 3,49% sementara kuartal IV 2020 minus 2,19 persen.
“Selanjutnya diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kuartal II, III, dan IV tahun ini berada di zona positif,” kata Arif dalam keterangan tertulis, Rabu.
Dia menyatakan, agar target tersebut bisa tercapai, pemerintah tetap memprioritaskan penanganan pandemi dari aspek kesehatan.
“3M tidak boleh diabaikan, jangan mudik, belanja lebih baik secara online, selain vaksinasi akan terus digenjot pemerintah,” ucap dia.
Selain itu, kata dia, daerah juga perlu mempercepat serapan anggarannya masing-masing agar roda ekonomi di daerah ikut bergerak.
Presiden Joko Widodo juga sudah meminta kepala daerah benar-benar mampu meningkatkan investasi swasta di daerahnya agar lapangan kerja ikut tercipta, kata Arif.
Menurut dia, dengan kerja sama yang kuat dari banyak pihak maka konsumsi masyarakat dapat tumbuh tinggi tanpa terganggu dengan pengetatan pembatasan sosial.
Menurut Arif, faktor eksternal juga dianggap turut mendorong penguatan ekonomi Indonesia.
Dia menyebutkan, beberapa negara mitra dagang utama Indonesia sudah mulai mencatatkan pertumbuhan positif.
Misalnya, China yang tumbuh 18,3 persen, Amerika Serikat 0,4 persen, dan Singapura 0,2 persen, kata dia.
"Ini diyakini bisa memperkuat permintaan ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut," lanjut Arif.
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan menurut pengeluaran disusun oleh pertumbuhan konsumsi yang masih terkontraksi minus 2,23 persen, investasi minus 0,23 persen, belanja pemerintah 2,96 persen, ekspor 6,74 persen, dan impor 5,27 persen.
Mengacu pada rincian pertumbuhan berdasarkan pengeluaran tersebut, Arif membenarkan pandemi covid-19 ini masih menekan perekonomian baik dari sisi pasokan maupun permintaan.
Pemerintah terus bekerja sama dengan otoritas moneter untuk mempertahankan dan memperbaiki kedua hal tersebut, kata dia.