31 Juli 2017•Update: 01 Agustus 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah Indonesia menjajaki impor daging sapi dari Afrika Selatan untuk mencegah ketergantungan dari negara-negara yang selama ini menyuplai kebutuhan dalam negeri, seperti Australia dan India, kata Menteri Perdagangan RI, Senin.
Menteri Enggartiasto Lukito mengatakan saat mendatangi Johannesburg, Afrika Selatan, beberapa waktu lalu, dirinya mendapat tawaran untuk mengimpor daging dari negara ini. Tawaran ini menarik karena bisa mengurangi ketergantungan dan menghindari monopoli atau dikte oleh negara penyuplai daging sapi. Selama ini suplai daging beku untuk kebutuhan dalam negeri berasal dari Australia, India, Meksiko, dan belakangan Chile.
“Kita tidak keberatan dapat dari Afrika Selatan, asal sesuai dengan standar kesehatan internasional. Setelah itu tentu juga diproses oleh Kementerian Pertanian dan MUI [Majelis Ulama Indonesia],” ujarnya di Jakarta.
Afrika Selatan, menurut Enggar, mempunyai cadangan daging beku hingga 125.000 ton tiap tahun. Harganya juga sangat kompetitif, tiap kilogram setara Rp 40-45 ribu saja.
Enggar mengakui, nilai perdagangan dengan negara ini belum begitu besar, baru mencapai USD 1 miliar, dengan surplus USD 437. Perdagangan Afrika Selatan -Indonesia, menurutnya menghadapi hambatan-hambatan tarif, karena ada kewajiban bagi Afrika Selatan yang merupakan anggota Southern African Custom Union (SACU) untuk membicarakan masalah ini bersama negara anggota yang lain. Sehingga, perdagangan kedua negara yang bisa dimaksimalkan dalam waktu dekat ini hanya untuk komoditas non tarif.
Selain itu, Afrika Selatan adalah negara berkembang yang saat ini sedang mengalami kesulitan ekonomi bahkan mengarah resesi, karena komoditas andalan mereka yaitu hasil-hasil tambang sedang menghadapi penurunan harga di pasaran internasional.
“Kami sepakat untuk sementara, selama proses perundingan dalam SACU, kami adakah studi faktor-faktor apa yang menghambat perdagangan kedua negara, seperti transportasi atau yang lainnya,” kata dia.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Imam Pambagyo mengatakan, dalam pertemuan ekonomi dan bisnis di negara itu, ada 10 perusahaan yang menjalin kerja sama dengan produk antara lain, ban, dan makanan serta minuman.
Kinerja perdagangan Indonesia di negara-negara anggota SACU didominasi oleh ekspor Crude Palm Oil (CPO) sebesar USD 200,49 juta. Kemudian USD 118,75 juta ekspor perhiasan, disusul otomotif sebesar USD 61,57juta, produk kimia sebesar USD 47,94 juta dan produk alas kaki sebesar USD 40,87 juta.