Muhammad Nazarudin Latief
03 Juni 2018•Update: 04 Juni 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia mengincar pasar otomotif Australia setelah industri otomotif di negara tersebut tutup.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan Indonesia ingin meningkatkan ekspor kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) baik itu yang mesin menggunakan bahan bakar maupun elektrik.
“Karena industri otomotif di sana tutup semua. Ini menjadi peluang bagi kita,” ujar Menteri Airlangga, Minggu.
Menurut Menteri Airlangga, Australia masih meminta agar produk yang masuk ke negaranya adalah kendaraan dengan komponen lokal yang berasal dari kawasan Asean mencapai 40 persen, sementara Indonesia mengusulkan sekitar 20-30 persen.
Menteri Airlangga juga mendorong agar perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang sudah memasuki putaran ke-11 segera selesai.
Menurut dia, sebagian besar isu terkait sektor industri sudah disepakati. Misalnya, Australian sudah setuju jika Indonesia ingin menerapkan Tariff Rate Quota (TRQ) untuk produk baja gulungan canai panas atau dingin (hot/cold rolled steel coil).
“Namun untuk in-quota harus diberlakukan automatic import licensing. Selain itu, Australia bersedia mengeliminasi 100 persen pos tarifnya saat perjanjian mulai berlaku,” ujar dia.
Menteri Airlangga yakin kerja sama bilateral yang komprehensif ini akan meningkatkan nilai ekspor produk Indonesia ke Australia. BagiIndonesia, ekspor produk manufaktur dipacu adalah tekstil, clothing dan footwear.
“Kita sedang minta bea masuknya bisa diturunkan, karena sekarang dikenakan sebesar 10-17 persen. Kalau bisa dihapuskan atau menjadi nol persen,” paparnya.
Volume perdagangan Indonesia-Australia sepanjang 2017 mencapai USD8,53 miliar, lebih tinggi dibanding 2016 pada angka USD8,45 miliar. Sedangkan, total nilai perdagangan kedua negara pada periode Januari-Maret 2018 berkisar USD2,03 miliar.
Selama ini, komoditas ekspor unggulan Indonesia ke Negara Kanguru tersebut, antara lain furnitur, produk karet dan kimia olahan, makanan dan minuman, tekstil, serta elektronik.
Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Surywirawan menyatakan, peluang ekspor kendaraan Indonesia ke pasar Australia cukup besar. Terlebih lagi, sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0, industri otomotif merupakan salah satu dari lima sektor manufaktur yang diprioritaskan menjadi percontohan pada tahap awal untuk implementasi industri 4.0 di Tanah Air.