Mucahithan Avcioglu
30 Juli 2026•Update: 30 Juli 2026
Permintaan perjalanan udara global pada Juni turun 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama dipicu anjloknya lalu lintas penerbangan di Timur Tengah serta melemahnya permintaan domestik di China, Amerika Serikat, dan Jepang, menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA).
IATA dalam laporannya menyebut kapasitas penerbangan global, yang diukur berdasarkan available seat kilometers (ASK), turun 1,3 persen, sementara tingkat keterisian kursi (load factor) turun 0,4 poin persentase menjadi 84,2 persen.
Jika tidak memasukkan kawasan Timur Tengah, permintaan perjalanan udara global hanya turun 0,6 persen.
Permintaan penerbangan internasional turun 0,9 persen secara tahunan. Namun, jika Timur Tengah dikecualikan, permintaan justru meningkat 1,1 persen. Kapasitas penerbangan internasional turun 0,6 persen, sedangkan tingkat keterisian kursi melemah menjadi 84,2 persen.
Sementara itu, permintaan penerbangan domestik menyusut 3 persen, diikuti penurunan kapasitas sebesar 2,4 persen dan tingkat keterisian kursi menjadi 84 persen.
Timur Tengah alami penurunan terdalam
Maskapai-maskapai di Timur Tengah mencatat penurunan paling tajam di antara seluruh kawasan. Permintaan penerbangan internasional merosot 14 persen, sementara kapasitas turun 11 persen. Tingkat keterisian kursi juga turun 2,6 poin persentase menjadi 76,3 persen.
IATA menyebut perang Iran masih memberikan tekanan besar terhadap lalu lintas penerbangan di kawasan, meski laju penurunannya telah berkurang setengah dibandingkan April seiring normalisasi bertahap operasi maskapai.
"Permintaan perjalanan udara global pada Juni turun 1,7 persen dibandingkan 2025," kata Direktur Jenderal IATA Willie Walsh.
Menurut Walsh, meningkatnya kembali ketegangan geopolitik dan kenaikan harga bahan bakar berpotensi menghambat pemulihan sektor penerbangan di kawasan serta mendorong kenaikan harga tiket pesawat.
Eropa dan Afrika catat pertumbuhan
Di tengah perlambatan global, maskapai Eropa membukukan kenaikan permintaan penerbangan internasional sebesar 1,5 persen. Rute Eropa-Asia mencatat pertumbuhan tertinggi di antara jalur internasional utama, yakni 11 persen.
Maskapai Asia-Pasifik mencatat kenaikan permintaan sebesar 0,4 persen meski kapasitas turun 1,1 persen. IATA menyebut kenaikan harga bahan bakar mendorong sebagian maskapai mengurangi layanan penerbangan jarak pendek di kawasan Asia.
Maskapai Afrika mencatat pertumbuhan regional tertinggi sebesar 6,7 persen, disusul maskapai Amerika Latin sebesar 3,5 persen.
Sebaliknya, permintaan penerbangan internasional maskapai Amerika Utara turun 1 persen, sementara kapasitasnya berkurang 0,7 persen.