İqbal Musyaffa
15 April 2019•Update: 16 April 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan nilai impor Indonesia pada Maret 2019 naik 10,31 persen dari bulan Februari dengan nilai USD13,49 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan peningkatan ini karena adanya pertumbuhan impor nonmigas sebesar 12,24 persen menjadi USD11,95 miliar, namun terjadi penurunan impor migas sebesar 2,7 persen menjadi USD1,54 miliar.
“Bila dibandingkan dengan Maret tahun lalu yang senilai USD14,46 miliar, ada penurunan nilai impor 6,76 persen,” jelas dia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Suhariyanto menambahkan impor tumbuh secara bulanan pada seluruh sektor.
Pada sektor konsumsi terjadi pertumbuhan impor 13,49 persen dengan nilai USD1,15 miliar.
“Impornya antara lain untuk mesin AC, anggur fresh dari Australia, jeruk Mandarin fresh dan dry, serta impor kurma dari Tunisia jelang Ramadhan,” urai Suhariyanto.
Kemudian, impor bahan baku/penolong juga tumbuh secara bulanan sebesar 12,34 persen dengan nilai USD10,14 miliar.
Impor pada sektor ini terdiri dari emas, gasoline, minyak mentah, dan mobile handphone tanpa baterai karena ada persyaratan untuk menggunakan komponen lokal.
Selanjutnya dia menjelaskan impor barang modal tumbuh secara bulanan 0,47 persen dengan nilai USD2,2 miliar untuk water heater, laptop, barang elektronik, dan jenis kendaraan truk.
“Komposisi impor didominasi oleh bahan baku/penolong dengan porsi 75,18 persen,” ungkap Suhariyanto.
Sementara porsi impor barang modal pada Maret sebesar 16,31 persen dan barang konsumsi 8,51 persen.
Dia menambahkan pada bulan Maret berdasarkan negara asal impor, terjadi peningkatan impor asal China dengan nilai USD151,9 juta, Hongkong USD140,2 miliar, dan Singapura USD138,5 juta.
Kemudian negara asal impor yang mengalami penurunan nilai antara lain Kanada USD19,1 juta, Afrika Selatan USD16 juta, dan Ukraina USD15,1 juta.