Iqbal Musyaffa,Umar Idris
20 Maret 2020•Update: 23 Maret 2020
JAKARTA
Pengamat menilai pelemahan nilai tukar rupiah dan IHSG saat ini merupakan sentimen negatif temporer dan akan kembali pulih setelah penyebaran wabah virus korona (Covid-19) berlalu.
Namun para ekonom belum dapat memprediksi kapan guncangan pasar keuangan Indonesia, terutama pada nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG), akan berakhir.
Nilai tukar rupiah pada Jumat berada di level Rp15.960 per dolar AS setelah sempat menembus level Rp16 ribu per dolar AS, sementara IHSG ditutup di zona hijau dengan posisi 4.194,94 atau menguat 2,18 persen setelah sempat berada di level 3.900 pada hari ini.
Kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan pelemahan nilai tukar dan IHSG ini akibat sentimen yang bersifat sementara.
Jika sentimennya karena faktor fundamental, maka pelemahan akan bersifat permanen.
“Sementara ini karena masalah sentimen, artinya dampaknya temporer hanya untuk sementara waktu selama ada Covid-19, jadi investor global cari aman semua,” ujar Josua kepada Anadolu Agency, Jumat.
Dia menagatakan setelah wabah Covid-19 mereda, dana-dana dari para investor global akan kembali ke negara berkembang karena yield atau imbal hasil obligasi negara berkembang termasuk Indonesia jauh lebih menarik daripada US Treasury yang mendekati 0 persen.
“Imbal hasil obligasi Indonesia untuk tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 8 persen,” jelas Josua.
Menurut dia, banyak investor asing yang melepas obligasi Indonesia dan juga saham karena mereka mencari aman untuk mendapatkan dolar dalam bentuk tunai.
Investor menganggap kondisi penyebaran virus korona mengkhawatirkan, sehingga mereka mengamankan asetnya dengan melepas SBN dan saham untuk mendapatkan dolar dalam bentuk tunai. Minat terhadap US treasury juga berkurang karena investor lebih tertarik memegan dana tunai saat ini.
“Ini yang membuat dolar menguat atas hampir seluruh mata uang dunia, terutama di Asia,” kata Josua.
Dia mengatakan kebijakan BI yang menurunkan suku bunga dan juga 7 bauran kebijakan baru yang sudah diumumkan serta rencana stimulus paket ketiga bisa memberikan kepercayaan kepada investor.
“Respon pemerintah dan Presiden cukup penting dan bisa memengaruhi perbaikan IHSG,” tambah dia.
Josua memprediksi, Rupiah akan kembali ke level Rp14 ribu per dolar AS serta IHSG juga bisa rebound ke level 5.000-6000 apabila kondisi global sudah kembali normal.
“Secara fundamental kondisi fiskal, moneter, dan politik Indonesia tidak ada isu, jadi saya pikir ini pengaruh sentimen eksternal sehingga investor cari aman dulu, dan akan kembali masuk setelah normal,” lanjut Josua.
Faktor harga minyak
Sementara Direktur Investasi Bahana TCW Investment, Budi Hikmat, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan harga saham di bursa efek Indonesia dipicu oleh ketakutan investor karena covid-19 dan penurunan harga minyak dunia.
"Fear indicator di pasar modal Indonesia sudah lebih rendah ketimbang yang terjadi tahun 2008," kata Budi Hikmat, dalam analisa tertulis untuk para investor, yang diterima Anadolu, pada Jumat.
Pelemahan rupiah dan kejatuhan harga SBN saat ini, kata Budi, lebih terkait faktor sentimen menyusul penurunan harga minyak global. Indonesia dipandang memiliki risiko cukup besar akibat penurunan harga minyak dunia karena pemerintah berisiko menerima penghasilan lebih kecil.
Selain Indonesia, negara lain yang berisiko ialah Brasil, Turki, dan Thailand. Dari semua negara itu, Budi menilai Brasil relatif lebih berisiko dan telah memicu kepanikan di kalangan para investor.
"Ada risiko income risk yang kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya terkait kejatuhan harga minyak," terang Budi.
Pekan kedua Maret lalu, harga minyak dunia anjlok 25 persen menjadi USD33,9 per barel, dimana penurunan harian terburuk sebesar 24 persen terjadi pada hari Senin, 9 Maret. Akibatnya selama tahun berjalan harga minyak terpangkas 48,7 persen.
Pada Jumat ini, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei masih turun, di posisi USD25,22 per barel.