İqbal Musyaffa
26 Juli 2019•Update: 29 Juli 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia berdasarkan survei pemantauan harga minggu keempat Juli mengatakan inflasi Juli akan lebih banyak disebabkan oleh kenaikan harga cabai rawit.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan inflasi Juli diperkirakan sebesar 0,23 persen (mtm) dan 3,23 persen (yoy).
“Cabai rawit inflasinya 0,12 persen hampir separuh dari inflasi Juli,” jelas Perry di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, penyumbang inflasi lainnya adalah emas perhiasan sebesar 0,04 persen.
“Inflasi cabai rawit ini terkait faktor musiman di luar jadwal panen dan juga pola konsumsi masyarakat,” tambah Perry.
Oleh karena itu, Perry mengatakan masyarakat harus mulai membiasakan diri mengkonsumsi hasil olahan cabai seperti dalam bentuk pasta ataupun cabai kering karena tetap memiliki rasa yang pedas.
“Kita harus biasakan itu,” kata dia.
Sementara itu, beberapa komoditas pada Juli ini mengalami deflasi seperti tarif angkutan antar kota sebesar 0,08 persen, bawang merah 0,06 persen, tarif angkutan udara 0,02 persen, dan juga tomat sayur, daging, dan daging ayam ras.
“Inflasi Juli masih tetap rendah dan terkendali sehingga mengkonfirmasi perkiraan kami inflasi akhir tahun di bawah titik tengah sasaran kita 3,5 persen,” imbuh Perry.
Dia menambahkan dalam rakornas Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kemarin sudah ditegaskan bahwa sinergisasi antara pemerintah pusat dan daerah serta 46 kantor perwakilan BI di daerah selama ini sudah sangat kuat.
“Alhamdulillah bisa membawa inflasi rendah dan stabil sejak 2015 hingga saat ini sekitar 3 persen terutama inflasi harga pangan secara rata-rata tidak lebih dari 5 persen kecuali tahun 2016 yang di atas 6 persen,” urai Perry.
Perry melanjutkan apabila inflasi harga pangan bisa dikendalikan dan turun dari 5 persen menjadi 4 persen, maka inflasi secara keseluruhan bisa lebih rendah.
Dia menyakini inflasi tetap terkendali rendah di dalam sasaran 3,5 persen dan kemudian pada tahun depan dan berikutnya akan mulai mengarah ke 3 persen.
“Kalau inflasi terus kita bisa kendalikan rendah dan stabil, tentu saja kemampuan kita untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bisa lebih kuat,” kata Perry.
Apabila inflasi rendah, BI dari sisi kebijakan moneter bisa merespon melalui suku bunga dengan membuka ruang untuk kebijakan akomodatif yang terus diamati dari waktu ke waktu.