Muhammad Abdullah Azzam
14 Agustus 2020•Update: 15 Agustus 2020
Tevik Durul
ATHENA
Setelah pakta kontroversial Athena dengan Kairo, Yunani pada Kamis mengumumkan pelaksanaan latihan militer bersama di Mediterania Timur bersama Prancis, negara lain yang berusaha mengekang wilayah maritim Turki.
Dua jet tempur Rafale Prancis berpartisipasi dalam latihan di lepas pantai Pulau Kreta setelah Prancis pada Rabu mengumumkan akan meningkatkan kehadiran militernya di wilayah tersebut.
Keputusan Prancis datang setelah Presiden Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis melakukan percakapan telepon guna membahas situasi terbaru di wilayah tersebut.
"Saya telah memutuskan untuk memperkuat sementara kehadiran militer Prancis di Mediterania timur dalam beberapa hari mendatang, bekerja sama dengan mitra Eropa, termasuk Yunani," tulis Macron di Twitter.
Prancis pada Kamis mengatakan bahwa pihaknya mengirim dua jet tempur Rafale dan fregat angkatan laut Lafayette ke Mediterania Timur.
Latihan tersebut dilakukan setelah Turki melanjutkan eksplorasi energi di Mediterania Timur pada Senin, tepat setelah penandatanganan pakta maritim Yunani-Mesir, yang ditekankan oleh Turki “ilegal”.
Pakta tersebut ditandatangani hanya sehari setelah Turki menunda kegiatannya di wilayah tersebut sebagai tanda niat baik.
Tapi setelah Athena-Kairo mendeklarasikan pakta maritim itu, Turki mengizinkan kapal Oruc Reis untuk melanjutkan aktivitasnya di suatu area di dalam landas kontinen Turki.
Kapal akan melanjutkan eksplorasi di Mediterania Timur bersama dengan kapal Cengiz Han dan Ataman hingga 23 Agustus.
Turki secara konsisten menentang upaya Yunani untuk mendeklarasikan zona ekonomi eksklusif berdasarkan pulau-pulau kecil dekat pantai Turki, melanggar kepentingan Turki, negara dengan pantai terpanjang di Laut Aegea dan Mediterania.
Turki mendesak pembicaraan untuk mencapai kesepakatan dengan pembagian yang adil dari sumber daya kawasan.