Politik, Dunia, Ekonomi

Xi Jinping sebut China ‘tak kejar hegemoni’ dan puji BRICS ‘kekuatan stabil’

KTT BRICS di Afrika Selatan ‘bukanlah upaya meminta negara-negara untuk memihak,’ kata presiden China

Riyaz ul Khaliq  | 23.08.2023 - Update : 25.08.2023
Xi Jinping sebut China ‘tak kejar hegemoni’ dan puji BRICS ‘kekuatan stabil’ Presiden Brasil Inacio Lula da Silva (kiri), Presiden China Xi Jinping (kedua kiri), Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa (tengah), Perdana Menteri India Narendra Modi (kedua kanan) dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (kanan) berpose foto keluarga pada KTT BRICS ke-15 di Johannesburg. (Kredit Foto: BRICS)

ISTANBUL

Dalam upaya untuk meyakinkan sekutu BRICS bahwa Beijing “bukan negara hegemonik,” Presiden Xi Jinping mengatakan China “tidak memiliki motivasi” untuk terlibat dalam “persaingan negara-negara besar” dan menyebut lima negara anggota sebagai “kekuatan yang positif dan stabil untuk selamanya yang akan terus berkembang.”

“China tetap berkomitmen terhadap kebijakan perdamaian luar negeri yang independen dan pembangunan komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia,” kata Xi kepada BRICS Business Forum di ibu kota Afrika Selatan, Johannesburg, pada Selasa malam.

BRICS adalah blok negara berkembang yang mencakup Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

Saat ini kelompok ini mencakup seperempat perekonomian global, menyumbang seperlima perdagangan global, dan merupakan rumah bagi lebih dari 40 persen populasi dunia.

Afrika Selatan menjadi tuan rumah pertemuan tatap muka BRICS yang pertama dalam empat tahun setelah pandemi Covid-19.

Dalam pidato tertulis di forum tersebut, Xi mengatakan China “dengan tegas menjunjung tinggi kepentingan bersama negara-negara berkembang dan berupaya meningkatkan keterwakilan dan suara negara-negara pasar besar dan negara-negara berkembang (EMDC) dalam urusan global.”

Namun, tanpa menyebut siapa pun, Xi menuduh “beberapa negara” yang “terobsesi mempertahankan hegemoninya” dan “telah melakukan upaya untuk melumpuhkan EMDC.”

“Hegemonisme tidak ada dalam DNA China; Tiongkok juga tidak mempunyai motivasi untuk terlibat dalam persaingan negara-negara besar. Tiongkok berdiri teguh di pihak yang benar dalam sejarah, dan percaya bahwa tujuan yang adil harus diupayakan demi kebaikan bersama,” ucap dia.

Konflik peradaban yang disengaja

Xi mengungkapkan bahwa dunia sedang mengalami perubahan “yang belum pernah terjadi sebelumnya, membawa masyarakat manusia ke titik kritis,” dan mengatakan bahwa BRICS berhak memilih apakah akan “mengejar kerja sama dan integrasi, atau hanya menyerah pada perpecahan dan konfrontasi?”

“Haruskah kita bekerja sama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas, atau hanya berjalan-jalan menuju jurang Perang Dingin yang baru? Haruskah kita merangkul kemakmuran, keterbukaan dan inklusivitas, atau membiarkan tindakan hegemonik dan intimidasi membuat kita depresi?” tanya dia.

Xi mengatakan jalannya sejarah “akan dibentuk oleh pilihan yang kita buat.”

Dia menekankan bahwa BRICS perlu “mendorong pembangunan dan kemakmuran bagi semua,” dan menambahkan bahwa banyak negara-negara EMDC “telah mencapai kondisi seperti sekarang ini setelah melepaskan diri dari penjajahan.”

“Dengan ketekunan, kerja keras, dan pengorbanan yang besar, kita berhasil meraih kemerdekaan dan menjajaki jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasional kita,” tambah dia.

Peringatan terhadap benturan peradaban dengan “secara sengaja menciptakan perpecahan dengan pernyataan ‘demokrasi versus otoritarianisme’ dan ‘liberalisme versus otokrasi,’” kata Xi.

BRICS secara mendasar ubah sistem global

Xi mengatakan BRICS adalah hasil dari “kebangkitan kolektif EMDC” yang “secara fundamental mengubah lanskap global.”

Dia mengatakan EMDC menyumbang setidaknya 80 persen pertumbuhan global dalam 20 tahun terakhir, dan kontribusi mereka terhadap PDB global telah meningkat dari 24 persen pada 40 tahun lalu menjadi lebih dari 40 persen saat ini.

“Apapun perlawanan yang ada, BRICS, kekuatan positif dan stabil untuk kebaikan, akan terus tumbuh,” tegas dia.

“Kami akan menjalin kemitraan strategis BRICS yang lebih kuat, memperluas model “BRICS Plus”, secara aktif memajukan perluasan keanggotaan, memperdalam solidaritas dan kerja sama dengan negara-negara EMDC lainnya, mendorong multipolaritas global dan demokrasi yang lebih besar dalam hubungan internasional, serta membantu menjadikan tatanan internasional lebih adil dan setara,” kata presiden China.

Dia juga mengatakan bahwa negara-negara BRICS yang diikuti oleh lebih dari 50 negara lain di Afrika Selatan “bukanlah upaya untuk meminta negara-negara tersebut memihak, atau upaya untuk menciptakan konfrontasi blok baru.”

“Ini adalah upaya untuk memperluas arsitektur perdamaian dan pembangunan,” tutur dia.

“China berharap dapat melihat lebih banyak lagi pihak yang bergabung dalam mekanisme kerja sama BRICS,” tukas dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın