Riyaz ul Khaliq
02 April 2026•Update: 03 April 2026
ISTANBUL
China menyatakan bahwa operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menjadi akar utama gangguan di Selat Hormuz, sekaligus menyerukan deeskalasi untuk menjaga keamanan jalur pelayaran global.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan gangguan di jalur strategis tersebut dipicu oleh operasi militer yang disebutnya “ilegal” terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas komentar Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya yang menyebut Amerika Serikat “hampir tidak mengimpor minyak” melalui Selat Hormuz.
Trump juga mengatakan negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak melalui jalur tersebut harus menjaga dan mengamankan aksesnya. Ia bahkan menyarankan negara yang kesulitan mendapatkan energi untuk membeli minyak dari AS atau mengambilnya langsung dari jalur tersebut.
China, yang mengimpor sebagian besar energinya dari Timur Tengah, menyatakan bahwa tiga kapalnya baru-baru ini melintasi Selat Hormuz. Jalur tersebut berada di bawah kendali efektif Iran sejak operasi militer gabungan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Dalam konflik yang masih berlangsung, sedikitnya 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Iran tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi ke negara-negara Asia, dan mengizinkan kapal dari negara yang disebutnya sebagai “negara sahabat” untuk melintas.