UNICEF laporkan kematian anak di Gaza berlanjut di tengah musim dingin
Cuaca dingin ekstrem dan buruknya kondisi pengungsian memperparah krisis kemanusiaan di Gaza
JENEWA
Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan bahwa anak-anak di Jalur Gaza masih terus meninggal dunia akibat serangan dan cuaca dingin ekstrem, meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah diberlakukan.
Juru bicara UNICEF James Elder menyampaikan hal tersebut dalam wawancara dengan Anadolu Agency di Jenewa, berdasarkan pengamatannya langsung selama menjalankan tugas di Gaza yang masih berada di bawah serangan dan pembatasan ketat Israel.
Elder menggambarkan kondisi Gaza saat ini sangat memprihatinkan, dengan badai angin kencang, hujan lebat, dan suhu dingin yang membuat anak-anak pengungsi kesulitan bertahan hidup di tenda-tenda darurat.
“Angin bertiup seperti badai, tenda-tenda terangkat, hujan sangat deras, anak-anak basah kuyup, dan hampir tidak mungkin untuk menghangatkan diri. Kita berbicara tentang keluarga yang sudah dua setengah tahun mengalami kekurangan gizi dan sistem imun yang runtuh,” kata Elder.
Ia mengakui bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan terdapat beberapa kemajuan, seperti pembukaan pusat pendidikan UNICEF di Gaza utara dan pendirian fasilitas kesehatan di berbagai wilayah. Namun, Elder menegaskan langkah tersebut masih jauh dari cukup.
“Tidak ada pendanaan yang memadai setelah dua setengah tahun kehancuran. Otoritas Israel masih membatasi masuknya obat-obatan penting dan gas untuk memasak. Anak-anak masih terus terbunuh,” ujarnya.
Menurut Elder, sejak gencatan senjata diumumkan, sekitar 100 anak laki-laki dan perempuan telah tewas. Artinya, rata-rata satu anak meninggal setiap hari selama periode gencatan senjata.
Elder juga menyoroti krisis kemanusiaan yang belum teratasi, terutama terkait tempat tinggal yang layak. Ia menekankan bahwa anak-anak seharusnya dapat tidur dengan aman dan hangat, mendapatkan makanan serta minuman hangat, lalu bersekolah. Namun, saat ini sebagian besar anak Gaza hanya mendapatkan satu atau dua dari kebutuhan dasar tersebut.
UNICEF mencatat sedikitnya tujuh anak kecil meninggal akibat hipotermia dalam kondisi cuaca dingin ekstrem. Elder menyebut cuaca di Gaza sering kali lembap dan berangin kencang, dengan kecepatan angin mencapai 30–40 kilometer per jam, yang semakin memperparah kondisi anak-anak pengungsi.
“Orang sering lupa betapa dinginnya Gaza. Ini wilayah pesisir, sangat lembap, berangin, dan dingin. Anak-anak yang sudah lama kekurangan gizi tidak memiliki daya tahan tubuh untuk bertahan,” katanya.
Elder menambahkan bahwa dalam sepekan terakhir, jumlah anak yang meninggal akibat dingin terus bertambah, mencerminkan betapa beratnya hidup di tenda-tenda darurat selama musim dingin.
Ia juga memperingatkan bahwa keputusan Israel melarang sejumlah organisasi masyarakat sipil akan memperburuk situasi kemanusiaan dalam waktu dekat. Menurutnya, organisasi internasional seperti Doctors Without Borders (MSF) merupakan mitra penting dalam penyediaan layanan kesehatan, gizi, dan dukungan psikososial bagi warga Gaza.
Elder mengatakan UNICEF telah berhasil menyalurkan sekitar 75 persen bantuan kemanusiaan pascagencatan senjata ke Gaza, namun kebutuhan dasar seperti obat-obatan penting dan gas memasak masih sangat kurang.
“Kami terus bernegosiasi dengan otoritas Israel dua hingga tiga kali seminggu agar pasokan bantuan dasar bisa masuk. Masih banyak yang harus dilakukan,” ujarnya.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
