Muhammad Abdullah Azzam
25 Juli 2019•Update: 25 Juli 2019
Yusuf Hatip
BRUSSELS
Komisi Uni Eropa mengungkapkan kekhawatiran mereka atas serangan rezim Bashar al-Assad dan sekutunya Rusia terhadap warga sipil di barat laut Suriah.
Uni Eropa (UE) mendesak rezim Assad dan Rusia untuk menghentikan serangan intens yang menargetkan permukiman sipil Zona De-eskalasi Idlib Suriah.
"Serangan terakhir di sebuah pasar di distrik Marratinnuman, provinsi Idlib adalah salah satu serangan paling mematikan terhadap sipil sejak akhir April lalu,” ungkap pernyataan dari juru bicara Komisi Uni Eropa.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada para keluarga korban tewas," lanjut pernyataan itu.
Uni Eropa menggarisbawahi bahwa serangan terhadap sasaran sipil tak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Dalam hal itu, Uni Eropa menekankan pentingnya memberikan bantuan kemanusiaan kepada semua yang membutuhkan di wilayah tersebut.
Uni Eropa mengingatkan bahwa sikap mereka jelas dalam meminta pertanggungjawaban terhadap semua pelaku perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
September lalu Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Namun, rezim Suriah dan sekutu-sekutunya secara konsisten melanggar ketentuan gencatan senjata, dan sering melancarkan serangan di dalam zona de-eskalasi.
Pada 12 Juli, Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR) mengatakan dalam laporannya bahwa sekitar 606 warga sipil tewas dalam serangan oleh pasukan rezim dan sekutunya di zona de-eskalasi Idlib sejak 26 April.
Saat ini Zona de-eskalasi dihuni sekitar 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu orang yang dipindahkan pasukan rezim dari kota-kota mereka selama beberapa tahun terakhir.
Suriah masuk dalam konflik yang menghancurkan, sejak awal 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menindak demonstran dengan tingkat keganasan yang tak terduga.