Dunia

Umat Kristen Palestina anggap klaim AS atas Yerusalem penghinaan

Uskup Agung Ortodoks Yunani memperingatkan bahwa keputusan AS berbahaya bagi prinsip hidup Palestina

Shenny Fierdha  | 24.12.2017 - Update : 25.12.2017
Umat Kristen Palestina anggap klaim AS atas Yerusalem penghinaan

Betlehem

BETLEHEM, Palestina

Pemuka agama Kristen Palestina telah mengutuk pengakuan Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan menyebutnya sebagai "penghinaan" terhadap umat Muslim dan Kristen di seluruh dunia.

"Kami, umat Kristen dan Muslim Palestina, menolak pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel," kata Uskup Agung Ortodoks Yunani di Yerusalem Atallah Hanna dalam sebuah konferensi pers di Tepi Barat, Kota Bethlehem, Sabtu.

"Deklarasi ini merupakan sebuah penghinaan terhadap orang-orang kami dan terhadap keadilan," kata Hanna.

Ia mengatakan bahwa keputusan AS tersebut merupakan sebuah penghinaan terhadap umat Kristen dan Muslim sedunia yang menganggap Yerusalem sebagai warisan agama mereka yang paling sakral, spiritual, serta sebagai peninggalan bangsa.

Hanna memperingatkan bahwa keputusan AS ‘berbahaya’ bagi prinsip hidup Palestina.

"AS telah memberikan pendudukan yang tidak pantas," kata Hanna, "Yerusalem merupakan kota yang kami anggap sebagai ibu kota dan pusat dari situs-situs suci kami."

Pada 6 Desember, Presiden AS Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel meski dunia memprotes. Keputusan ini menimbulkan kemarahan dan demonstrasi dari umat Muslim sedunia.

Menyusul resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang secara bulat menolak keputusan AS, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi yang menolak keputusan AS dengan jumlah suara sebanyak 128 negara mendukung resolusi dan sembilan negara tidak setuju terhadap resolusi.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan petinggi Turki lainnya telah berada di garis depan dalam melawan keputusan AS dengan cara mensponsori resolusi UNGN dan mengadakan pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam, dan melakukan tindakan-tindakan lainnya.

Yerusalem tetap menjadi inti konflik di Timur Tengah dimana Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur -- yang diduduki oleh Israel -- suatu saat akan menjadi ibu kota negara merdeka Palestina.

Proyek Kolonial 

Hanna mengatakan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh Israel menyasar semua warga Palestina, baik Muslim maupun Kristen, beserta situs suci mereka di Yerusalem.

"Kami dulu berdiri mempertahankan Masjid Aqsa, dan kami sekarang akan berdiri untuk mempertahankan warisan umat Kristen," kata Hanna.

"Bersama kami akan menghentikan proyek kolonial baru Trump yang bermaksud untuk mengakhiri Palestina," tegasnya.

Munib A. Younan, Uskup Gereja Lutheran Evangelical Yordania dan Tanah Suci mengatakan bahwa Yerusalem merupakan ibu kota tiga agama -- Islam, Kristen, dan Yahudi -- dan ibu kota dua warga.

Younan menekankan bahwa Gereja Lutheran Evangelical menolak adanya perubahan terhadap status sejarah Yerusalem.

"Siapapun yang mencoba mengubah [status quo] sama saja dengan berkeinginan untuk mengubah keadilan ini menjadi perang agama," kata Younan.

Ibrahim Filitis, seorang pendeta aliran Fransiscan, mengatakan bahwa keputusan AS terkait Yerusalem telah membuat mata dunia kembali tertuju pada Palestina.

"Ini adalah kemenangan untuk Palestina, yang merupakan inti dari semua konflik," kata Filitis.

Gubernur Betlehem Gebrin Bakri kembali mengingatkan akan penolakan 14 gereja di wilayah Palestina terhadap deklarasi AS atas Yerusalem.

"AS telah memutuskan untuk mendukung Israel alih-alih mendukung status kota suci itu," kata Bakri.

"Akibat keputusan ini, kami tidak akan menerima AS sebagai mediator dalam proses perdamaian," kata Bakri.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın