ANKARA
Turki akan meningkatkan hubungannya dengan benua Afrika, dan mengambil langkah nyata untuk memperdalam hubungan dengan organisasi regional seperti Uni Afrika dan Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS), kata menteri luar negeri negara itu Mevlut Cavusoglu pada Kamis.
Pernyataan dari Cavusoglu datang pada konferensi pers bersama yang diadakan di ibu kota Ankara bersama sejawatnya dari Liberia Dee-Maxwell Saah Kemayah.
Mereka membahas semua aspek hubungan bilateral, perkembangan di Afrika, masalah keamanan, dan perang Rusia-Ukraina, kata Cavusoglu.
Tindakan perlawanan terhadap FETO -- kelompok teror di balik kudeta yang dikalahkan tahun 2016 di Turki -- dan situasi perusahaan Turki di Liberia juga dibahas dalam pertemuan tersebut, tambah dia.
"Kami akan lebih memperdalam hubungan kami dengan negara-negara Afrika, Uni Afrika, dan organisasi regional seperti ECOWAS," sebut Cavusoglu.
"Kami akan mengambil langkah yang lebih nyata pada banyak masalah di periode mendatang," imbuh dia lagi.
Cavusoglu mencatat sangat penting untuk menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi untuk mencapai tujuan, dia juga menambahkan bahwa rancangan ini akan siap dalam waktu satu bulan.
Kedua negara juga telah memulai negosiasi MoU tentang industri pertahanan, ungkap dia, mencatat bahwa mereka juga meningkatkan kerja sama mereka dalam melatih pasukan khusus, dan memerangi terorisme dan kejahatan terorganisir.
Dia mengatakan ada berbagai bidang untuk kerja sama, termasuk sektor pariwisata dan keuangan, dan beberapa perusahaan Turki siap untuk berinvestasi di sektor energi Liberia.
Bersama dengan hubungan bilateral yang tumbuh cepat, Turki berupaya membangun kedutaan di ibu kota Liberia atas instruksi Presiden Recep Tayyip Erdogan, kata menlu Cavusoglu.
Dia mengatakan bahwa Ankara siap memberikan semua jenis bantuan ke Liberia, yang berencana akan membuka kedutaannya sendiri di ibu kota Turki.
Menteri Turki menyambut baik dukungan Liberia untuk memerangi kelompok teroris FETO dengan mengambil alih sekolah-sekolahnya, dan mengatakan Yayasan Maarif Turki dapat membuka sekolah-sekolah baru di negara itu atau mengambil alih kepengurusan sekolah-sekolah yang diambil alih dari kelompok itu.
Cavusoglu juga mengomentari diskusi tentang Frontex, badan perbatasan Uni Eropa, yang baru-baru ini mendapat kecaman karena diduga mengambil bagian dalam penolakan ilegal terhadap migran gelap.
Menanggapi pertanyaan tentang pemotongan anggaran Frontex pada perannya dalam penolakan migran ke Yunani, dia mengatakan otoritas Turki telah membagikan bukti yang menunjukkan Yunani mendorong paksa kembali migran gelap di pulau-pulau Aegea dan perbatasan Turki.
“Ini karena sebagian anggaran digunakan untuk mendorong mundur para migran. Frontex tidak hanya menonton ini, tetapi juga menjadi saksi dan berpartisipasi dalam praktik-praktik tidak manusiawi ini. Pemotongan anggaran dan pengunduran diri direktur eksekutif tidak membebaskan para pelaku kejahatan oleh Frontex,” tutur dia, sambil menggarisbawahi bahwa penolakan tersebut mengakibatkan kematian para migran dalam beberapa kasus.
Dia menekankan bahwa Yunani dan Frontex, dan karenanya Uni Eropa, memiliki tanggung jawab atas kematian para migran dan Turki bersedia membagikan dokumen dan informasi tentang penolakan jika pengadilan Eropa ingin menyelidiki masalah ini dengan tulus.