Maria Elisa Hospita
18 Oktober 2018•Update: 19 Oktober 2018
Ferhat Demircan
ANKARA
Menteri kehakiman Turki mengatakan bahwa kasus hilangnya jurnalis Arab Saudi tengah diselidiki dengan seksama dan hasilnya akan segera diungkap.
Abdulhamit Gul mengatakan kantor kejaksaan Turki akan memaparkan temuan di balik hilangnya Jamal Khashoggi dan "melakukan semua upaya yang sesuai dengan hukum internasional".
Khashoggi menghilang sejak dia memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Di hari yang sama, 15 warga Saudi - termasuk beberapa pejabat - tiba di Turki dengan dua pesawat dan menyambangi konsulat.
Pada Rabu, unit investigasi TKP tiba di kediaman Konsul Jenderal Saudi di Istanbul, Mohammad al-Otaibi, pukul 16.40 waktu setempat (1340 GMT). Al-Otaibi telah pulang ke Riyadh sejak Selasa.
Tim gabungan Turki-Saudi menyelesaikan investigasi pada Kamis pagi setelah menggeledah kediaman al-Otaibi dan gedung konsulat Saudi di Istanbul.
Tim Turki telah selesai mencari bukti dalam sembilan jam, namun tetap kembali ke konsulat Saudi untuk mengumpulkan lebih banyak bukti.
Putusan untuk Brunson
Menteri Gul juga membahas Andrew Brunson, pastor asal Amerika yang dibebaskan baru-baru ini.
"Pengadilan Turki tidak membuat keputusan di bawah pengaruh apapun atau di bawah perintah siapapun," tegas dia.
Menurut Gul, larangan perjalanan Brunson telah dicabut menyusul putusan itu.
Brunson ditangkap pada Desember 2016 karena memiliki hubungan dengan Organisasi Teroris Fetullah (FETO), kelompok di balik percobaan kudeta Juli 2016.
Pastor itu didakwa berperan sebagai mata-mata untuk kelompok teror FETO dan PKK.
Pada Jumat, Brunson dijatuhi hukuman lebih dari tiga tahun penjara, namun dibebaskan karena telah menjalani masa tahanan dan menunjukkan perilaku baik selama ditahan.
Ribuan teroris dipenjara
Menteri Kehakiman juga mengungkapkan jumlah anggota kelompok teror yang mendekam di penjara-penjara Turki.
Gul menyebutkan ada 1.161 anggota Daesh, sekitar 32.000 anggota FETO, dan 10.000 anggota PKK yang dipenjara.
Selama lebih dari 30 tahun kampanye teror melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teror di Turki, AS, dan Uni Eropa - telah bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 warga Turki, termasuk perempuan dan anak-anak.