Dandy Koswaraputra
08 Oktober 2018•Update: 08 Oktober 2018
Tugcenur Yilmaz
DHAKA, Bangladesh
Turki mendukung kami dalam krisis Rohingya, kata menteri luar negeri Bangladesh, Minggu.
Sebagai bagian dari program "Visit Bangladesh 2018", Abul Hassan Mahmood Ali bertemu sekitar 50 wartawan dari Turki, Kanada, Arab Saudi, Jepang, Oman, Brasil, Ethiopia, India, Filipina, dan Korea Selatan di ibu kota Dhaka.
“Turki mendukung kami. Ada banyak rencana terkait isu Rohingya, ” kata menlu Bangladesh.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan Turki telah membangun sebuah rumah sakit di wilayah itu untuk Rohingya yang dianiaya dan melakukan banyak kegiatan di berbagai bidang.
Dia mengatakan Turki telah membangun sebuah rumah sakit di wilayah itu untuk untuk bangsa Rohingya yang sangat menderita saat ini.
Turki berada di garis depan isu Rohingya di lapangan dengan lembaga bantuan kemanusiaan dan organisasi amal nonpemerintah yang disponsori negara serta di tingkat internasional dengan mengorganisir pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan mengadvokasi Rohingya di PBB Majelis Umum.
Badan-badan bantuan Turki telah membangun ribuan tempat perlindungan bagi Rohingya di kamp-kamp pengungsi di daerah Cox's Bazar sementara Bulan Sabit Merah Turki telah menyediakan makanan bagi ribuan Rohingya di kamp-kamp setiap hari.
Mantan Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengunjungi kamp-kamp Rohingya di Cox's Bazar, membangun sebuah rumah sakit lapangan 50 tempat tidur Desember lalu.
Beberapa orang Rohingya, yang tinggal di kamp-kamp di Cox's Bazar, akan dipindahkan ke Bhasan Char, sebuah pulau terpencil di Teluk Benggala, karena kepadatan penduduk di kamp-kamp.
Menlu Ali mengatakan mereka masih mengerjakan proyek dan rencana itu akan direalisasikan begitu rumah-rumah di pulau itu siap.
“Pemerintah India telah membangun 250 rumah bagi Rohingya di sana. Pemerintah Cina akan membangun seribu rumah,” kata dia.
Menlu Bangladeshi juga menegaskan kembali desakan pemerintahnya pada repatriasi yang aman dari Rohingya.
Myanmar dan Bangladesh menandatangani kesepakatan untuk kembalinya pengungsi awal tahun ini, tetapi dengan repatriasi yang tertunda, kekhawatiran semakin berkembang karena kurangnya keterlibatan organisasi internasional dalam prosesnya.
Ketika menanyakan tentang tanggal pasti repatriasi, Ali mengatakan itu adalah proses yang berkelanjutan.
Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan negara Myanmar, menurut laporan oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA).
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dilemparkan ke dalam api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, berjudul "Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira".
Sekitar 18.000 wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambahnya.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak, dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas pada bulan Agustus 2017.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat karena puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.