Satuk Bugra Kutlugun
13 April 2018•Update: 13 April 2018
Satuk Bugra Kutlugun
ANKARA
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Kamis menolak membeberkan rencana intervensi militer di Suriah, dengan mengatakan rencana itu "bisa segera dilakukan atau tidak dilakukan sama sekali".
Dalam sebuah tweet, Trump mengatakan: "Jangan pernah mengatakan kapan serangan terhadap Suriah akan terjadi. Bisa jadi segera atau tidak secepat itu! Dalam kejadian apa pun, Amerika Serikat, di bawah Administrasi saya, telah melakukan tugas besar untuk membersihkan wilayah ISIS. Di manakah "Terima kasih untuk Amerika?"
Trump menggunakan ISIS sebagai akronim lain untuk organisasi teror Daesh.
Pernyataan Trump tersebut tampaknya mundur dari cuitannya pada hari Rabu, yang memperingatkan Rusia untuk bersiap-siap untuk rudal yang "akan datang".
"Rusia bersumpah untuk menembak jatuh semua rudal yang ditembakkan ke Suriah. Bersiaplah Rusia, karena mereka akan datang, baik dan baru dan 'pintar!'
"Anda seharusnya tidak bermitra dengan Hewan Pembunuh Gas yang membunuh rakyatnya dan menikmatinya!" katanya, mengacu pada Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Trump juga mengatakan dalam serangkaian tweet-nya bahwa hubungan AS-Rusia telah mencapai titik terendahnya dan mendesak untuk mengakhiri perlombaan senjata.
Rusia, pada Rabu, memperingatkan terhadap risiko bentrokan langsung dengan AS di Suriah, dengan seorang utusan Rusia yang mengatakan jika rudal AS terbang di atas negara yang dilanda perang itu maka akan ditembak jatuh.
Pasukan rezim Suriah menyerang sasaran di distrik Douma di Ghouta Timur pada Sabtu tengah malam menggunakan gas beracun yang menyebabkan sedikitnya 78 warga sipil tewas, menurut White Helmets, sebuah badan pertahanan sipil setempat.
Serangan itu memicu kecaman di seluruh dunia.
Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi Resolusi 2401 yang menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah, terutama di Ghouta Timur untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Meskipun resolusi telah dibuat, rezim Assad dan sekutu-sekutunya awal bulan ini meluncurkan serangan darat utama yang didukung oleh kekuatan udara Rusia yang bertujuan menangkap bagian-bagian Timur Ghouta yang dikuasai oposisi.
Rumah bagi sekitar 400.000 orang itu tetap menjadi target pengepungan rezim yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.
Awal bulan ini, komisi penyelidikan PBB merilis laporan yang menuduh rezim melakukan kejahatan perang di Ghouta Timur, termasuk penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil.