Diyar Guldogan
13 April 2018•Update: 13 April 2018
Diyar Guldogan
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa negaranya merasa terganggu atas tindakan beberapa negara yang mengubah Suriah menjadi arena "pergulatan".
"Kami sangat merasa terganggu dengan tindakan beberapa negara yang mengandalkan kekuatan militernya mengubah Suriah menjadi arena pergulatan," kata Erdogan pada upacara pembukaan kereta Baskentray di ibu kota Ankara, Kamis.
Erdogan memberikan pernyataan tersebut sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui akun Twitter-nya memperingatkan Rusia untuk bersiap terhadap keterlibatan militer AS di Suriah menyusul dugaan serangan kimia di Douma, Ghouta Timur yang menewaskan puluhan orang pada 8 April lalu.
Trump juga menyalahkan Moskow karena bermitra dengan "hewan pembunuh gas", yang mengacu pada Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Cuitan Trump di Twitter muncul setelah Moskow memperingatkan bahwa risiko bentrokan militer langsung antara Rusia dan AS di Suriah "lebih tinggi dari sebelumnya", seorang utusan Rusia juga mengatakan bahwa rudal AS yang terbang di Suriah akan ditembak jatuh.
Erdogan menambahkan, dia telah melakukan pembicaraan telepon dengan Trump pada Rabu untuk membahas perkembangan terkini di Suriah.
"Hari ini, saya akan berbicara dengan [Presiden Rusia Vladimir] Putin. Saya akan membicarakan tentara bagaimana kita bisa menghentikan pembantaian kimia ini [di Suriah]," tambah dia.
-- Operasi melawan terorisme
Erdogan menyampaikan bahwa setidaknya 4.123 teroris telah dilumpuhkan sejak dimulainya Operasi Ranting Zaitun di Afrin, barat laut Suriah. Pada 20 Januari, Turki meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris YPG/PKK-Daesh dari Afrin.
Pada 18 Maret, pasukan yang didukung Turki membebaskan pusat kota Afrin, yang telah menjadi tempat persembunyian utama bagi YPG/PKK sejak 2012.
Erdogan menegaskan bahwa teroris-teroris YPG / PKK akan ditumpas "satu per satu".
"Kami akan terus melanjutkan keberadaan dan kegiatan kami di Suriah sampai wilayah benar-benar aman bagi semua orang," ujar Erdogan.
Dia juga mengkritik pihak-pihak yang mendukung "rezim Assad pembunuh" dan organisasi teroris YPG/PKK.
Erdogan mengatakan bahwa jumlah teroris PKK yang dilumpuhkan di utara Irak telah mencapai 337.
Serangan udara terhadap target-target PKK di utara Irak, di mana terdapat basis utama kelompok teror tersebut yakni Wilayah Gunung Qandil di dekat perbatasan Iran, telah dilakukan secara teratur sejak Juli 2015, ketika PKK melanjutkan kampanye teror bersenjata mereka terhadap Turki.