Dunia

Suriah tuduh SDF tingkatkan rskalasi keamanan di Aleppo Timur

Tentara Suriah menilai pengerahan kelompok bersenjata SDF di Aleppo timur sebagai eskalasi berbahaya

Lina Altawell, Rania Abushamala  | 13.01.2026 - Update : 13.01.2026
Suriah tuduh SDF tingkatkan rskalasi keamanan di Aleppo Timur

ISTANBUL

Tentara Suriah menyebut pengerahan kelompok-kelompok bersenjata oleh Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces/SDF) di wilayah Aleppo timur sebagai eskalasi berbahaya dan memperingatkan bahwa setiap tindakan dari kelompok tersebut akan dihadapi dengan respons keras.

Pernyataan itu disampaikan Komando Operasi Tentara Suriah pada Senin (12/1), yang menyatakan pihaknya tengah melakukan penilaian langsung dan segera terhadap situasi di lapangan.

“Kami tidak akan tinggal diam menghadapi eskalasi berbahaya ini,” demikian pernyataan Komando Operasi Tentara Suriah.

Menurut komando tersebut, informasi intelijen menunjukkan bahwa bala bantuan baru yang dikerahkan SDF mencakup pejuang dari kelompok PKK serta sisa-sisa unsur rezim sebelumnya.

Sumber militer yang dikutip kantor berita resmi Suriah, SANA, menyebutkan bahwa bala bantuan baru Tentara Suriah telah tiba di titik-titik penempatan di Deir Hafer dan Maskanah, di wilayah pedesaan Aleppo timur.

Sejak Selasa lalu, SDF dilaporkan menembaki kawasan permukiman, fasilitas sipil, dan posisi Tentara Suriah di Aleppo. Berdasarkan data resmi, serangan tersebut telah menewaskan 24 orang, melukai hampir 130 lainnya, serta memaksa sekitar 165.000 warga mengungsi dari distrik Ashrafieh dan Sheikh Maqsoud.

Sebelumnya, pada Maret 2025, Kepresidenan Suriah mengumumkan penandatanganan kesepakatan integrasi SDF ke dalam institusi negara, yang menegaskan kembali persatuan wilayah Suriah dan menolak segala upaya pemecahan.

Pada April 2025, otoritas Suriah juga menandatangani kesepakatan dengan SDF terkait distrik Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh. Kesepakatan tersebut menetapkan kedua wilayah sebagai bagian administratif dari Kota Aleppo dengan tetap menghormati kekhususan lokal masing-masing.

Perjanjian itu mencakup larangan aktivitas bersenjata, pembatasan kepemilikan senjata hanya untuk aparat keamanan internal, serta penarikan pasukan militer SDF ke wilayah timur Sungai Eufrat di Suriah timur laut.

Namun, menurut otoritas Suriah, dalam beberapa bulan terakhir SDF dinilai tidak menunjukkan langkah nyata untuk memenuhi ketentuan dalam kesepakatan tersebut.

Pemerintah Suriah sendiri disebut telah meningkatkan upaya menjaga keamanan di seluruh wilayah negara sejak tumbangnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, setelah berkuasa selama 24 tahun.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.