Rhany Chairunissa Rufinaldo
26 Desember 2018•Update: 26 Desember 2018
Husameldin Badawi Ahmed Almayl dan Safiye Karabacak
KHARTOUM, Sudan
Presiden Sudan Omar al-Bashir pada Selasa mengatakan embargo Amerika Serikat telah menyebabkan masalah ekonomi di negaranya.
Televisi pemerintah Sudan melaporkan bahwa al-Bashir, yang berbicara kepada warga di negara bagian Gezira dekat Khartoum, mengatakan bahwa ada sabotase yang bertujuan menghambat pembangunan dan kemajuan Sudan.
Dia mengatakan bahwa pengkhianat, agen dan tentara bayaran telah merusak institusi negara Sudan.
"Sudan mengalami kesulitan ekonomi karena embargo Barat," ujarnya.
Pada Selasa, pasukan keamanan Sudan membubarkan protes massa di dekat istana presiden di ibu kota Khartoum.
Ribuan pengunjuk rasa bergerak dari jalan Al-Qasr ke istana kepresidenan, menuntut Presiden Omar al-Bashir untuk mundur dari jabatannya.
Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan para demonstran dan menangkap puluhan dari mereka.
Pada Senin, al-Bashir, yang telah berkuasa sejak 1989, berjanji untuk melakukan reformasi ekonomi di tengah protes atas kenaikan harga dan kekurangan bahan pokok.
Setidaknya delapan orang tewas sejak protes dimulai di beberapa negara Sudan pekan lalu.
Sebagai negara berpenduduk 40 juta orang, Sudan tengah berjuang untuk pulih setelah kehilangan tiga perempat dari produksi minyaknya yang menjadi sumber utama mata uang asing mereka ketika Sudan Selatan tutup pada 2011.
Amerika Serikat mulai memberlakukan embargo ekonomi di Sudan pada 1997 karena alasan teror, tetapi berjanji untuk mencabutnya pada Januari.