Alyssa McMurtry
09 Oktober 2017•Update: 10 Oktober 2017
Alyssa McMurtry
MADRID
Ratusan ribu demonstran memadati jalanan Barcelona pada Minggu, mendorong pemerintah Catalonia mematuhi hukum konstitusi Spanyol dan mengakhiri perjuangan kebebasan.
Para demonstran membawa bendera-bendara Spanyol dan Uni Eropa serta aksesoris merah dan kuning menandai Spanyol yang bersatu. Penyelenggara memperkirakan sekitar 950.000 partisipan ikut serta sedangkan pihak polisi mengatakan demonstran sebanyak 350.000 orang saja.
"Semangat bisa menjadi hal yang berbahaya bila berlanjut menjadi fanatisme dan rasisme. Dan yang terburuk adalah semangat nasionalisme," kata Mario Vargas Llosa, pemenang hadiah Nobel dari Peru yang menetap di Spanyol.
"Kami tidak ingin bank-bank dan perusahaan lain meninggalkan Catalonia, seperti kota ini terserang wabah," kata Llosa dalam pidatonya.
Demonstrasi ini terjadi sepekan setelah referendum kemerdekaan Catalonia, di mana sekitar 900 pemilih bentrok dengan polisi Spanyol dan mengalami luka-luka. Sekitar 43 persen warga menggunakan hak pilih mereka. Dari jumlah itu 90 persen memilih untuk berpisah dari Spanyol, mendorong pemerintah Catalonia mengajukan usulan kemerdekaan.
Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy pada Minggu mengatakan kepada media El Pais dia akan melakukan segalanya untuk mengusung kedaulatan Spanyol.
"Perjuangan ini akan kami hadapi dan menangi karena ini adalah perjuangan yang adil," kata Rajoy dalam wawancaranya.
Gejolak politik di Catalonia berujung dengan sejumlah bank dan perusahaan besar angkat kaki dan pindah ke kota-kota lain di Spanyol. Referendum pekan lalu juga membelah penduduk Catalonia karena masih terdapat sebagian besar warga yang ingin menetap di Spanyol.
Media Spanyol mengatakan demonstrasi hari Minggu kemarin adalah aksi pertama dari "silent majority" yang menolak perpisahan Catalonia dari Spanyol.