Muhammad Abdullah Azzam
09 Maret 2018•Update: 10 Maret 2018
Mohamad Misto dan Levent Tok
ANKARA
Dengan serangan yang semakin brutal, Rezim Bashar a-Assad dan pendukungnya telah berhasil membelah wilayah Ghouta Timur menjadi dua bagian.
Rezim Assad dan pendukungnya masih terus melanjutkan serangan meski Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) telah mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata selama 30 hari dan Rusia telah mengumumkan gencatan senjata selama lima jam setiap harinya.
Menurut wartawan Anadolu Agency di wilayah tersebut, dengan serangan yang intens, pasukan rezim telah mencapai daerah kabupaten Harasta. Berarti setelah menaklukan koridor sepanjang satu kilometer hingga daerah Misraba, rezim Assad berhasil membelah Ghouta Timur menjadi dua bagian.
Kini pasukan rezim secara simbolis telah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya di wilayah Ghouta Timur bagian tengah, dari timur ke barat.
Bentrokan sengit tengah berlanjut di Ghouta Timur. Para kelompok oposisi melakukan perlawanan terhadap penyerangan rezim tersebut dengan taktik serang-mundur (hit-and-run).
Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putih telah memberikan instruksi untuk menerapkan jeda kemanusiaan antara pukul 09.00-14.00 waktu setempat setiap hari.
Dewan Keamanan PBB mengadopsi sebuah resolusi gencatan senjata kemanusiaan setidaknya selama 30 hari di Suriah tanpa penundaan.
Resolusi tersebut menyerukan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Suriah dan terutama evakuasi medis terhadap pasien kritis dan korban luka-luka di Ghouta Timur yang terkepung.
Ghouta Timur terletak di kawasan de-eskalasi yang disetujui oleh Turki, Rusia dan Iran. Di wilayah itu khususnya, aksi serangan dan kekerasan tidak boleh dilakukan.
Ghouta Timur, yang berada di wilayah pinggiran kota Damaskus, telah dikepung selama lima tahun terakhir dan akses kemanusiaan ke daerah tersebut, yang merupakan rumah bagi sekitar 400.000 orang.
Dalam delapan bulan terakhir, kekuatan rezim Assad telah mengintensifkan pengepungan Ghouta Timur mereka, sehingga hampir tidak mungkin bagi makanan atau obat-obatan masuk ke distrik tersebut dan membuat ribuan pasien butuh perawatan.