Maria Elisa Hospita
09 Juni 2020•Update: 09 Juni 2020
Cindi Cook
PARIS
Prancis resmi melarang teknik kuncian leher (chokehold) yang digunakan oleh polisi untuk menahan tersangka sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi pelanggaran oleh para petugas penegak hukum.
"Metode chokehold tidak akan lagi diajarkan di sekolah polisi dan gendarmerie," kata Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner saat konferensi pers pada Senin.
Keputusan itu diambil sebagai tanggapan atas brutalisme polisi yang menewaskan George Floyd, warga Amerika Serikat, pada 25 Mei.
Derek Chauvin, salah satu polisi yang menangkap Floyd, menduduki leher Floyd selama hampir sembilan menit, hingga Floyd sesak napas dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
Insiden itu memicu amarah di Minneapolis dan seluruh AS dan bahkan seluruh dunia.
Pekan lalu, aksi protes digelar di Paris bertepatan dengan dirilisnya laporan hasil penyelidikan mengenai kematian Adma Traore. Traore meninggal saat ditahan polisi empat tahun silam.
Pada Minggu, Castaner berdiskusi dengan Presiden Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Edouard Philippe untuk membahas rasisme dan kebrutalan polisi. Presiden pun meminta agar Castaner secara khusus menangani masalah ini.
"Kami tidak akan menoleransi rasisme dalam penegakan hukum. Rasisme tidak punya tempat di masyarakat maupun kepolisian Prancis," tegas Castaner.
Dia juga mengatakan bahwa petugas polisi akan diperlengkapi kamera tubuh saat menjalankan tugas mereka.