Dunia

Prancis gandakan donasi vaksin ke negara berkembang jadi 60 juta dosis

Para pemimpin negara terkaya di dunia sepakat untuk menjanjikan satu miliar dosis melalui program vaksin COVAX Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mencapai kekebalan komunal dengan memvaksinasi setidaknya 60 persen dari populasi dunia tahun depan

Ekip   | 14.06.2021
Prancis gandakan donasi vaksin ke negara berkembang jadi 60 juta dosis Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh (kedua dari kiri) dan Menteri Kesehatan Palestina Mey Keyle (kiri) menghadiri kampanye vaksinasi bagi pekerja garis depan, lansia, pasien kanker dan tenaga medis, di kota Ramallah, Tepi Barat, 21 Maret 2021. Kementerian Kesehatan Palestina mulai memberikan dosis pertama vaksin virus korona melalui nisiatif COVAX global. ( Issam Rimawi - Anadolu Agency )

Ankara

Shweta Desai

PARIS

Prancis akan menggandakan kontribusinya dalam berbagi vaksin Covid-19 dengan negara-negara berkembang menjadi 60 juta dosis.

Komitmen itu disampaikan oleh Presiden Emmanuel Macron pada akhir KTT G7 di Inggris, Minggu.

“G7 berkomitmen untuk berbagi satu miliar dosis vaksin pada akhir tahun. Prancis menggandakan komitmennya, yang mewakili 60 juta dosis. Solidaritas bersama," kata Macron melalui Twitter.

Pada hari terakhir KTT, para pemimpin negara-negara terkaya di dunia sepakat untuk menjanjikan satu miliar dosis melalui program vaksin COVAX Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mencapai kekebalan komunal dengan memvaksinasi setidaknya 60 persen dari populasi dunia tahun depan.

Macron, yang dalam pertemuan puncak virtual pada Februari telah meminta para pemimpin G7 untuk berbagi vaksin kepada petugas kesehatan di Afrika, mengatakan bahwa Uni Afrika akan menerima 5 juta dosis pada akhir musim panas.

“Metode kami untuk keluar dari pandemi jelas: berbagi dosis vaksin, tetapi juga membuka akses produksi di semua benua,” ujar dia.

Macron menambahkan bahwa G7 telah secara kolektif meminta sektor farmasi swasta untuk membantu memastikan transparansi harga vaksin yang juga dapat digunakan oleh negara penerima dalam pembelian kembali dan meningkatkan kapasitas produksi di semua negara kelas bawah dan menengah untuk membangun kemandirian.

“Afrika mewakili 20 persen dari kebutuhan vaksinasi di dunia tetapi hanya memiliki 1 persen dari kapasitas produksi, dan oleh karena itu, kita harus membantu setiap benua untuk meningkatkan kapasitasnya,” ungkap dia.

Macron menambahkan bahwa dalam jangka pendek, para pemimpin G7 juga sepakat untuk melakukan perubahan struktural melalui pencabutan semua pembatasan ekspor.

Menurut dia, langkah itu akan melepaskan perubahan besar, terutama untuk produsen vaksin terbesar India, Serum Institute, yang produksinya diblokir karena pembatasan ekspor bahan baku tertentu yang berasal dari beberapa ekonomi G-7.

Presiden Prancis telah mendukung permintaan India untuk pencabutan pembatasan bahan baku di G7 dan memberi contoh Serum Institute yang menjadi pusat kekurangan vaksin Covid-19 secara global.

"Dalam kasus apa pun, kekayaan intelektual tidak akan memblokir transfer teknologi yang memungkinkan produksi di semua wilayah dunia," tambah dia.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın