Dunia

Pengadilan Mesir hukum mati 24 anggota Ikhwanul Muslimin

- Hukuman diberikan untuk dua kasus berbeda yang melibatkan pembunuhan petugas polisi

Ekip   | 30.07.2021
Pengadilan Mesir hukum mati 24 anggota Ikhwanul Muslimin Para terdakwa menghadiri sidang di balik kurungan di Kairo, Mesir pada 9 Januari 2018. Pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman penjara kepada sekitar 268 orang terkait pembubaran kamp aksi untuk mendukung mantan Presiden Mohamed Morsi pada 2013. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada 23 orang karena ikut serta dalam aksi duduk di alun-alun Nahda provinsi Giza, sebelah barat Kairo. ( Stringer - Anadolu Agency )

Ankara

Ibrahim al-Khazen

ISTANBUL

Pengadilan Mesir pada Kamis menjatuhkan hukuman mati kepada 24 anggota Ikhwanul Muslimin dalam dua kasus terpisah yang melibatkan pembunuhan petugas kepolisian.

Surat kabar milik negara al-Ahram mengatakan Pengadilan Kriminal Damanhour memerintahkan hukuman mati untuk 16 terdakwa yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, termasuk Mohamed Sweidan, pemimpin regional organisasi tersebut, atas keterlibatan mereka dalam pengeboman bus polisi di Kota Rashid, Provinsi Beheira, pada 2015.

Enam dari terdakwa diadili tanpa kehadiran di pengadilan.

Menurut al-Ahram, ledakan itu menewaskan tiga petugas polisi dan melukai 39 lainnya.

Pengadilan yang sama juga menjatuhkan hukuman mati kepada delapan anggota Ikhwanul Muslimin yang dituduh membunuh seorang petugas polisi pada Desember 2014 di Kota Ad Dilinjat di Beheira.

Kasus ini dibatalkan untuk tiga terdakwa karena mereka telah meninggal dunia.

Surat kabar itu tidak menjelaskan apakah putusan itu sudah final atau dapat diajukan banding.

Namun, Organisasi Shehab untuk Hak Asasi Manusia, yang berada di luar Mesir, mengatakan putusan tersebut bersifat final karena dikeluarkan oleh pengadilan darurat.

Tidak ada angka pasti untuk hukuman mati yang dikeluarkan di Mesir tahun ini kecuali 10 hukuman mati yang dijatuhkan pada bulan April dan hukuman mati yang dijatuhkan terhadap 12 pemimpin Ikhwanul Muslimin atas kasus pembubaran Rabaa pada 2013.

Pada Februari 2019, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi membela hukuman mati dalam pertemuan puncak antara negara-negara Arab dan Eropa.

Menyusul penggulingan mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi pada 2013, pihak berwenang Mesir sering menganiaya anggota dan pemimpin Ikhwanul Muslimin serta melarang kelompok tersebut.

*Ahmed Asmar berkontribusi pada berita ini dari Ankara


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın