Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 Maret 2019•Update: 28 Maret 2019
Riyaz ul Khaliq
ANKARA
Kelompok pembelot Korea Utara mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kedutaan besar negaranya di Spanyol bulan lalu.
Menurut harian Korea The Chosun Ilbo, serangan terhadap kedutaan Korea Utara di Madrid terjadi pada 22 Februari, ketika seorang anggota yang diidentifikasi sebagai Adrian Hong Chang memasuki kedutaan dan meminta untuk bertemu atase komersial, sebelum anggota lain menyusul masuk setelahnya.
Dalam sebuah pernyataan yang diposting di situs webnya, kelompok yang mengidentifikasi dirinya sebagai Free Joseon mengklaim bahwa mereka menanggapi situasi mendesak di kedutaan besar Madrid.
"Mereka menyandera staf kedutaan selama beberapa jam sebelum melarikan diri dengan membawa komputer, ponsel dan setumpuk dokumen," kata Chosun Ilbo.
Kelompok itu mengungkapkan bahwa pihaknya telah membagi informasi yang dicuri dari kedutaan kepada Biro Investigasi Federal AS (FBI).
"Organisasi [Free Joseon] berbagi informasi tertentu dengan nilai potensial yang sangat besar dengan FBI di Amerika Serikat, di bawah persyaratan kerahasiaan yang disepakati bersama. Informasi ini dibagikan secara sukarela dan atas permintaan mereka, bukan milik kami. Persyaratan itu tampaknya telah dilanggar," kata pernyataan itu.
Mengklaim bahwa insiden itu bukan serangan terhadap kedutaan, kelompok itu mengatakan hanya menanggapi situasi yang mendesak.
"Kami diundang ke kedutaan, dan bertentangan dengan laporan, tidak ada yang disumbat atau dipukuli. Karena kami menghormati negara tuan rumah Spanyol, tidak ada senjata yang digunakan," katanya.
Dalam pernyataan lain, Freee Joseon mengklaim bahwa anggota mereka berada di dalam maupun di luar Korea Utara dan berkomitmen untuk mengakhiri suksesi turun-temurun keluarga Kim.