Ekip
25 Mei 2019•Update: 27 Mei 2019
DHAKA, Bangladesh
Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Filippo Grandi mendesak Myanmar untuk mengambil tindakan yang memungkinkan para pengungsi di Bangladesh dan di dalam negeri dapat kembali dengan selamat.
Grandi menekankan persoalan ini saat bertemu dengan Penasihat Negara Myanmar Daw Aung San Suu Kyi dalam kunjungan lima harinya ke Myanmar yang berakhir pada Jumat, kata sebuah laporan UNHCR.
Grandi menyampaikan kekhawatirannya atas nasib komunitas Rakhine dan Rohingya dan para pengungsi di Bangladesh.
Grandi juga menandatangani nota kesepahaman denganKementerian Kesejahteraan Sosial, Bantuan dan Pemukiman mengenai kegiatan UNHCR di Myanmar.
Selama pembicaraan itu, Grandi juga mendorong Myanmar untuk mempercepat verifikasi sekitar 98.000 pengungsi yang tinggal di Thailand.
Hal ini untuk memberikan solusi repatriasi bagi pengungsi ataumendapatkan akses resmi ke bursa tenaga kerja di Thailand.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.