Dunia, Regional

Pakar PBB minta dunia bertindak cegah kematian massal di Myanmar timur

Menurut pelapor khusus PBB, serangan brutal Junta mengancam ribuan nyawa di negara bagian Kayah

Faruk Zorlu   | 10.06.2021
Pakar PBB minta dunia bertindak cegah kematian massal di Myanmar timur Warga Myanmar berunjuk rasa menentang pemerintahan junta militer hasil kudeta 1 Februari 2021 (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

Faruk Zorlu

ANKARA

Pakar hak asasi manusia PBB di Myanmar pada Rabu memperingatkan bahwa banyak nyawa akan hilang akibat kelaparan dan penyakit di negara bagian Kayah di tengah tindak kekerasan pasukan junta.

"Serangan brutal junta tanpa pandang bulu mengancam kehidupan ribuan pria, wanita dan anak-anak di negara bagian Kayah," kata Tom Andrews di Twitter.

Menurut dia, tanpa tindakan segera, kematian massal karena kelaparan, penyakit, dan paparan, dalam skala yang belum pernah terlihat sejak kudeta 1 Februari bisa terjadi di negara bagian Kayah.

Andrews juga mengutuk serangan tanpa pandang bulu yang dilancarkan junta terhadap warga sipil.

"Lebih dari 100.000 orang terpaksa meninggalkan rumah dan desa mereka untuk menghindari serangan bom dan tembakan artileri oleh pasukan junta di negara bagian Kayah. Banyak yang terpaksa masuk ke hutan tetangga tanpa makanan, air, dan tempat berlindung," ungkap dia.

Andrews mendesak semua aktor regional dan LSM untuk mengambil tindakan demi menghindari kehilangan nyawa dalam jumlah besar, sementara pasukan junta menghentikan bantuan dengan memasang blokade militer dan meletakkan ranjau darat di jalan umum.

"Sekarang lebih dari sebelumnya, komunitas internasional harus memutus akses ke sumber daya yang dibutuhkan junta untuk melanjutkan serangan brutal terhadap rakyat Myanmar," tambah dia.

Di tengah kekacauan yang berlanjut di Myanmar sejak kudeta militer, junta melancarkan tindakan brutal terhadap warga sipil di berbagai wilayah negara itu dan Kayah telah menjadi pusat kekerasan baru-baru ini.

Militer, atau Tatmadaw, menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi, menahannya dan para pemimpin lain dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi, kemudian menindak pengunjuk rasa anti-kudeta dengan kekerasan yang mematikan.

Partai Suu Kyi memenangkan masa jabatan kedua pada November, tetapi militer mengatakan kecurangan dalam pemilihan memaksa untuk merebut kekuasaan.

Negara bagian Kayah telah menjadi pusat pertempuran sengit antara militer dan kelompok perlawanan bersenjata regional sejak 21 Mei, ketika tentara melepaskan tembakan di daerah pemukiman Demoso dan menangkap 13 orang.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın