Dunia, Analisis

OPINI – Orang sakit dan menua di dunia: Eropa dari pusat kekuatan global menuju krisis struktural

Eropa tidak lagi hanya menghadapi perlambatan ekonomi, tetapi mengalami kemunduran strategis yang bersifat struktural dan jangka panjang

Serdar Karagöz, Muhammad Abdullah Azzam  | 19.01.2026 - Update : 19.01.2026
OPINI – Orang sakit dan menua di dunia: Eropa dari pusat kekuatan global menuju krisis struktural

ISTANBUL

Ketua Dewan Direksi dan Direktur Jenderal Anadolu Agency Serdar Karagöz menulis analisis untuk Anadolu tentang bagaimana Eropa telah menjadi “orang sakit” baru akibat persoalan struktural dan kelemahan strategis.

Metafora “Orang Sakit” pertama kali digunakan pada abad ke-19 oleh Tsar Rusia Nicholas I untuk menggambarkan Kekaisaran Ottoman. Seiring waktu, istilah ini melampaui sekadar perumpamaan historis dan berubah menjadi kategori analisis mapan untuk menggambarkan negara-negara yang mengalami pelapukan ekonomi, institusional, dan politik.

Sepanjang abad ke-20, sebutan ini digunakan untuk berbagai negara, mulai dari Britania Raya hingga Jepang, dari Jerman era Weimar hingga Yunani. The Economist pada 2005 menyebut Italia sebagai “orang sakit sejati” Eropa, sementara The Daily Telegraph, CNBC, dan media Amerika Serikat pada tahun-tahun berbeda menggunakan kerangka yang sama untuk Portugal, Spanyol, Prancis, Finlandia, dan Yunani.

Namun, hari ini gambaran tersebut telah berubah secara mendasar. “Orang sakit” kini tidak lagi menggambarkan negara tunggal, melainkan seluruh benua sebagai metafora struktural. Eropa selama ini dipandang sebagai “peradaban institusional” dunia.

Dengan supremasi hukum, negara kesejahteraan, kapasitas teknik yang tinggi, serta institusi yang stabil, Eropa merupakan salah satu pusat kekuatan paling berpengaruh. Akan tetapi, saat ini Eropa dengan cepat kehilangan kemampuannya untuk menjadi penentu permainan dalam parameter baru persaingan global. Masalah utama Eropa bukan sekadar perlambatan ekonomi, melainkan kemunduran strategis.

Di balik kemunduran ini, terdapat dua dinamika struktural utama: populasi yang menua dan regulasi yang berlebihan. Jika dipertimbangkan bersama, kedua faktor ini mengubah Eropa menjadi benua dengan proses pengambilan keputusan yang lamban, cenderung menghindari risiko, dan memiliki mobilitas yang terbatas. Kondisi ini kini menjadi realitas yang dapat diamati secara jelas melalui data.

Kerentanan demografis: Eropa yang menua

Menurut data Eurostat, usia median di Uni Eropa pada 2024 mencapai 44,7 tahun. Dengan kata lain, separuh populasi Eropa berusia di atas 44,7 tahun. Di Italia, angka ini mencapai 48,7 tahun. Eropa kini bukan hanya “menua”, tetapi secara struktural telah menjadi benua yang tua.

Menyusutnya populasi usia kerja mempersempit pasar tenaga kerja dan mengurangi basis pajak, sementara belanja sosial meningkat pesat.

Model negara kesejahteraan Eropa dibangun di atas dinamika populasi yang muda dan produktif. Kini, model yang sama semakin sulit dipertahankan di bawah tekanan biaya dari populasi yang menua.

Kesehatan dan negara kesejahteraan: Guncangan biaya yang mendekat

Seiring meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia, kesehatan dan layanan perawatan jangka panjang menjadi sektor dengan lonjakan belanja publik paling tajam. Lebih banyak penyakit kronis, lebih banyak kebutuhan perawatan, dan usia harapan hidup yang lebih panjang terjadi bersamaan dengan menyusutnya populasi produktif dan terbatasnya potensi pertumbuhan ekonomi.

Situasi ini berpotensi memicu guncangan biaya besar dalam sistem kesehatan Eropa dan semakin membebani anggaran publik. Layanan kesehatan bukan sekadar layanan publik, tetapi salah satu pilar utama yang menopang model kesejahteraan Eropa. Retaknya pilar ini akibat tekanan biaya dapat memperkuat populisme politik, ketegangan sosial, dan sentimen anti-imigran.

Cermin Eropa sendiri: Laporan Draghi

Salah satu contoh paling mencolok dari penilaian ini adalah Laporan Strategi Daya Saing Eropa yang disusun oleh mantan Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi, pada September 2024. Draghi, yang mengelola krisis finansial Eropa selama Krisis Zona Euro, merupakan figur yang paling memahami struktur institusional dan batasan Eropa. Oleh karena itu, laporan ini bukan kritik eksternal, melainkan cermin yang dihadapkan Eropa kepada dirinya sendiri.

Tesis utama Draghi jelas: masalah yang dihadapi Eropa bukan lagi krisis sementara, melainkan kehilangan daya saing struktural yang terakumulasi. Laporan tersebut menyoroti kesenjangan produktivitas dan teknologi yang semakin melebar dengan Amerika Serikat, kegagalan memanfaatkan revolusi digital, tingginya biaya energi, meningkatnya persaingan dengan China, serta investasi pertahanan yang tidak memadai.

Saat ini, total pendapatan tahunan Uni Eropa sekitar 40 persen lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat. Investasi riset dan pengembangan sektor swasta Eropa hanya mencapai sekitar setengah dari tingkat Amerika Serikat.

Salah satu indikator paling mencolok dalam laporan tersebut adalah fakta bahwa dalam lima puluh tahun terakhir tidak ada satu pun perusahaan baru dari Eropa yang mencapai valuasi pasar lebih dari 100 miliar euro. Dari 50 perusahaan teknologi terbesar dunia, hanya empat yang berasal dari Eropa, sebuah gambaran konkret tentang bagaimana benua ini tertinggal dalam revolusi digital.

Regulasi berlebihan: Kelumpuhan peradaban institusional

Masalah besar lain Eropa adalah budaya regulasi yang telah mencapai tingkat yang menekan inovasi. Eropa lebih berfokus pada “mengatur teknologi” ketimbang “menciptakan teknologi”. Pendekatan ini mungkin memberikan keunggulan jangka pendek dalam isu keamanan dan etika, tetapi dalam jangka panjang justru melemahkan daya saing.

Contoh paling jelas terlihat di bidang kecerdasan buatan. Uni Eropa mengesahkan AI Act sebagai regulasi kecerdasan buatan paling komprehensif di dunia dengan pendekatan berbasis risiko. Namun, pendekatan ini justru membatasi perkembangan teknologi melalui refleks regulasi Eropa sendiri.

Hari ini, Eropa tidak mengatur karena tidak memproduksi teknologi, dan tidak memproduksi teknologi karena terlalu mengaturnya. Hal ini menciptakan refleks institusional yang menunda dan meningkatkan biaya inovasi, alih-alih mengarahkannya. Eropa tampak terjebak dalam jalur yang memprioritaskan regulasi dibandingkan kemajuan, meskipun menyadari bahwa pilihan ini akan mengikis daya saing jangka panjangnya.

Chip dan kapasitas produksi: Mata rantai terlemah Eropa

Bidang paling simbolis dari kemunduran teknologi Eropa adalah semikonduktor. Menurut data EE Times, pangsa Eropa dalam produksi chip global turun dari 44 persen pada 1990 menjadi sekitar 9 persen saat ini. Penurunan ini menunjukkan bahwa meskipun Eropa masih mempertahankan kapasitas pengembangan ilmu pengetahuan, benua ini kehilangan skala produksi dan kemampuan industrialisasi.

Untuk membalikkan tren ini, Uni Eropa meluncurkan European Chips Act pada 2022 dan menetapkan target pangsa pasar global 20 persen pada 2030. Namun, Mahkamah Auditor Eropa menyatakan target ini tidak realistis, menegaskan bahwa Eropa harus melipatgandakan produksinya dalam waktu singkat untuk mencapainya.

Dalam praktiknya, berbagai kendala juga muncul. Penundaan investasi besar Intel di Jerman menjadi contoh nyata masalah struktural ini. Proyek pabrik silikon karbida Wolfspeed di Saarland, Jerman, ekspansi kapasitas STMicroelectronics–GlobalFoundries di Prancis, serta investasi Infineon di Jerman dan Austria juga berjalan lebih lambat dari yang diharapkan akibat biaya tinggi dan proses perizinan yang panjang.

Sebagian besar proyek ini hanya dapat bertahan berkat subsidi publik yang besar. Padahal, chip berarti kedaulatan di hampir semua bidang, mulai dari kecerdasan buatan hingga pertahanan.

Pertahanan: Harga payung keamanan

Kerapuhan industri pertahanan Eropa juga bersifat struktural. Selama bertahun-tahun hidup di bawah payung keamanan Amerika Serikat telah melemahkan inovasi dan kapasitas produksi pertahanan Eropa. Di era militer baru, ketika drone, jaringan sensor, sistem komando berbasis kecerdasan buatan, dan platform otonom mengubah karakter perang, Eropa kesulitan melakukan lompatan kompetitif.

Meskipun Uni Eropa mengalokasikan anggaran besar untuk pertahanan, fragmentasi visi akibat 27 prioritas nasional yang berbeda menghambat efektivitas. Lemahnya mekanisme pengadaan bersama, kurangnya standardisasi, dan proses tender yang panjang menghalangi terciptanya ekonomi skala dalam industri pertahanan.

Kontras antara kapasitas teknik Eropa yang tinggi dan lemahnya refleks strategis serta skala produksi semakin terlihat.

Pendekatan ekosistem cepat yang dikembangkan Turkiye dalam bidang UAV dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan dinamika yang tidak banyak ditemukan di sebagian besar Eropa. Sebaliknya, Eropa terjebak dalam sistem pengadaan yang sangat bergantung pada pihak luar.

Kesimpulan

Eropa selama bertahun-tahun memperoleh kekuatan dari institusionalitasnya, tetapi kini institusionalitas yang sama justru membatasi daya geraknya. Populasi yang menua menurunkan dinamika ekonomi, sementara regulasi berlebihan memperlambat inovasi.

Kemunduran di berbagai bidang—mulai dari chip, pertahanan, kecerdasan buatan, hingga sistem kesehatan—bukan lagi sekadar persepsi, melainkan realitas yang dapat diukur. Para elit Eropa berupaya membalikkan tren ini, namun seperti metafora “air yang memanas perlahan”, Eropa terlambat menyadari bahwa airnya sudah mendidih.

Karena itu, tahun-tahun mendatang kemungkinan akan menjadi periode ujian yang jauh lebih berat bagi Eropa dalam aspek sosial, politik, ekonomi, dan keamanan. Jendela waktu yang dimiliki Eropa mungkin jauh lebih sempit daripada yang selama ini diperkirakan.

[Serdar Karagöz adalah Ketua Dewan Direksi dan Direktur Utama Anadolu Agency.]

Pendapat yang disampaikan dalam artikel-artikel merupakan tanggung jawab penulisnya dan tidak selalu mencerminkan kebijakan editorial Anadolu.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın