Rhany Chairunissa Rufinaldo
02 Oktober 2018•Update: 02 Oktober 2018
Umar Farooq
WASHINGTON
New York Times pada Senin mengkritik kebijakan imigrasi yang dilakukan oleh pemerintah Amerika, mengutip penahanan tanpa batas waktu terhadap anak-anak di bawah umur yang tidak didampingi.
Dewan Editorial surat kabar tersebut menulis bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump sedang berjuang untuk mencari solusi, sementara mereka menahan ribuan imigran gelap di seluruh negeri.
Pekan lalu, otoritas imigrasi federal menarik hampir 2000 anak dari berbagai tempat penampungan di sekitar AS dan mengirim mereka ke "kota tenda" di desa gurun Tornillo, Texas.
Langkah itu dilakukan karena meningkatnya kepadatan yang dihadapi banyak pusat penahanan tahun ini.
Sementara masalah tentang anak di bawah umur tanpa pendamping yang telah melintasi perbatasan secara ilegal adalah sesuatu yang juga diperjuangkan oleh pemerintahan Obama, Times berpendapat bahwa pemerintahan saat ini tidak membantu meredakan situasi.
Harian itu melaporkan bahwa Departemen Keamanan Dalam Negeri memperketat pembatasan bagi kerabat yang ingin mengurus anak-anak tanpa pendamping itu sementara kasus mereka diproses.
Persyaratan baru itu membuat para kerabat yang ingin mengurus mereka takut, karena mereka kemungkinan bisa ikut ditahan karena tidak memiliki dokumen juga.
"Sejauh ini, lusinan pelamar yang mengambil kesempatan untuk mengajukan permohonan menjadi sponsor telah ditangkap atas tuduhan terkait dokumen imigrasi," tulis Times.
Banyak pusat penahanan juga telah terbukti tidak memberikan keamanan yang diperlukan bagi anak-anak sehingga menimbulkan masalah seperti pelecehan fisik dan seksual, menurut surat kabar tersebut.
Times menekankan satu-satunya cara tercapainya solusi adalah melalui kompromi politik dan kebijakan restrukturisasi.
"Namun, anak-anak yang mengalami trauma mendalam, yang kehidupannya telah dijungkirbalikkan dengan menahan mereka tanpa batas waktu, hanya akan membuat perlakuan negara ini terhadap anak-anak tersebut menjadi semakin memalukan, banyak di antara mereka akan menghabiskan seumur hidupnya untuk pulih dari kegagalan kita ini," tulis Times.