Khaled Yousef, Sahin Demir
24 Juli 2026•Update: 24 Juli 2026
Israel mengisyaratkan tengah mempersiapkan kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran di tengah berlanjutnya konflik antara Teheran dan Washington.
Otoritas keamanan Israel juga meningkatkan tingkat kewaspadaan menyusul kekhawatiran eskalasi dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Menurut penyiar publik Israel KAN, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan menggelar rapat Kabinet Keamanan pada Jumat untuk membahas kesiapan militer menghadapi kemungkinan meningkatnya ketegangan pada akhir pekan.
Media Israel melaporkan lembaga keamanan negara itu telah meningkatkan status kesiapsiagaan di tengah kekhawatiran bahwa ketegangan di kawasan dapat meningkat dengan cepat.
Israel tingkatkan kesiapsiagaan
Menteri Pertahanan Israel Katz, seperti dikutip harian Yedioth Ahronoth, mengatakan dalam konsultasi keamanan bahwa Israel "siap menghadapi segala kemungkinan."
Ia memperingatkan Iran akan menerima "serangan yang menghancurkan" jika melancarkan serangan terhadap Israel.
Menteri Energi Eli Cohen juga menyerukan kesiapan menghadapi semua kemungkinan dengan menyebut situasi kawasan saat ini membutuhkan tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi.
"Kita melihat apa yang sedang terjadi di kawasan. Amerika Serikat menyerang Teheran dan Iran menyerang negara-negara di kawasan. Hal ini menuntut kewaspadaan dan peningkatan tingkat siaga," kata Cohen kepada Army Radio.
"Jika Iran bertindak terhadap Israel, kami akan merespons dengan tegas. Kami memiliki kemampuan intelijen dan serangan yang signifikan," tambahnya.
Penilaian intelijen Barat
Yedioth Ahronoth juga mengutip pakar intelijen Barat yang menilai Iran kemungkinan akan berupaya memperluas konflik dengan melibatkan Israel dalam konfrontasi yang sedang berlangsung.
Menurut surat kabar itu, penilaian tersebut didasarkan pada anggapan Iran bahwa terdapat perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv mengenai cara menangani krisis, yang dapat dimanfaatkan Teheran.
Spekulasi semakin menguat setelah anggota parlemen dari Partai Likud, Moshe Saada, mengatakan kepada Channel 14 bahwa Israel sedang "bersiap melancarkan serangan terhadap Iran, mungkin secepat akhir pekan ini."
Namun, pejabat Partai Likud segera meredam pernyataan tersebut dengan menyebutnya sebagai penilaian pribadi Saada, bukan berdasarkan informasi dari pengarahan resmi.
Yedioth Ahronoth mengutip pejabat Israel yang mengatakan Saada tidak mengikuti konsultasi keamanan terbaru dan komentarnya hanya didasarkan pada laporan media. Kantor Netanyahu juga dilaporkan menyatakan ketidakpuasannya atas pernyataan tersebut.
Israel tunggu keputusan Trump
Di tengah berbagai pernyataan tersebut, para pejabat Israel mengindikasikan bahwa perkembangan besar dalam beberapa hari ke depan sangat bergantung pada keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
"Kunci perkembangan dalam beberapa hari mendatang tetap berada di tangan Presiden AS Donald Trump," kata seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya kepada Yedioth Ahronoth.
Menurut pejabat itu, pemerintahan AS masih menekan Iran dengan mempertahankan ancaman eskalasi militer sembari berupaya mendorong Teheran kembali ke meja perundingan.
Ia menambahkan Israel diperkirakan tidak akan memulai serangan kecuali menjadi sasaran langsung serangan Iran, meski Washington dapat meminta dukungan atau partisipasi Israel pada tahap selanjutnya.
Ketegangan di kawasan meningkat dalam dua pekan terakhir setelah Trump pada 8 Juli mengumumkan bahwa gencatan senjata yang diatur dalam nota kesepahaman AS-Iran tertanggal 18 Juni tidak lagi berlaku.
Sejak saat itu, Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan. Washington menargetkan sejumlah lokasi di wilayah Iran, sementara Teheran mengklaim telah menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara kawasan.
Konfrontasi tersebut mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, mengancam pasokan energi global, serta memicu penutupan wilayah udara secara berkala dan meningkatnya peringatan terhadap kemungkinan serangan terhadap fasilitas maupun kepentingan AS di luar Timur Tengah.