Maecy Alviar
22 Juni 2018•Update: 23 Juni 2018
Maecy Alviar
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Ribuan keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka di provinsi sebelah selatan Filipina, Lanao del Sur, karena adanya operasi militer yang dilakukan pemerintah untuk mencari ketua kelompok teror Maute, yang ditengarai menjadi emir Daesh yang baru di Asia Tenggara.
Wakil Komandan Pasukan Gabungan Ranao, Kolonel Romeo Brawner, berkata pada Kamis bahwa para pejabat pemerintah daerah menaikkan uang hadiah kepada siapa saja yang membantu menangkap Owayda Benito Marohombsar, alias Abu Dar, dari semula 3 juta peso (USD56.150) menjadi 6 juta peso (USD112.300). Menurut dia, pasukan militer kesulitan menemukan Abu Dar yang bersembunyi di daerah pedalaman.
Bentrokan terjadi pada Minggu, setelah militer meluncurkan operasi intelijen untuk memburu Abu Dar dan sekitar 50 anggota kelompok Maute -- kelompok militan yang meluncurkan pengepungan di Kota Marawi, Filipina selatan, tahun lalu.
Pasukan pemerintah melakukan serangan udara di daerah pegunungan di sekitar provinsi tersebut, mendorong lebih dari 1.000 orang warga mengevakuasi diri dari tujuh kota, kata Dewan Manajemen Pengurangan Risiko Bencana Provinsi.
Di awal pekan ini, Brawner mengatakan bahwa militer telah mengepung lokasi tempat tinggal kelompok tersebut.
"Kami menemukan bunker mereka. Mereka memiliki menara, lubang perlindungan, granat kosong dan satu gudang amunisi," ujarnya seperti dikutip olh ABS-CBN News.
Kelompok Maute -- yang kehilangan lebih dari 1.000 anggotanya dalam pengepungan Marawi, termasuk 13 warga negara asing -- kini memiliki sedikit anggota, namun beberapa waktu terakhir ini mereka menggandakan usaha perekrutan dan menata kembali kelompok mereka dengan menjarahi Marawi dan menerima pendanaan dari sekutu-sekutu Daesh, imbuh Brawner.
Sementara itu, Brawner berkata lebih dari 20 militan membaur bersama warga yang melakukan evakuasi dan berpura-pura menjadi masyarakat biasa ketika militer melakukan serangan pada Kamis di Kota Marawi.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada 23 Mei lalu menyatakan Filipina selatan berada dalam keadaan darurat militer setelah serangan teroris Daesh, yang megibarkan bendera-bendera hitam di wilayah tersebut sebagai upaya untuk menegakkan kekhalifahan di Asia Tenggara.
Keadaan darurat militer ini diperpanjang oleh Kongres sampai akhir tahun dalam upaya untuk menaklukkan ancaman terorisme.