ISTANBUL
Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan mengatakan peluang tercapainya perdamaian permanen dalam perang Rusia–Ukraina kini “sangat dekat”, menyusul pembahasan mendalam di Paris dalam pertemuan Koalisi Negara-Negara Pendukung Ukraina.
Berbicara kepada jurnalis di Kedutaan Besar Turkiye di Paris pada Selasa (7/1), Fidan menuturkan bahwa setelah empat tahun perang, isu-isu kunci menuju perdamaian mulai dibahas dengan tingkat keseriusan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia mewakili Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam pertemuan yang dihadiri para pemimpin negara serta pejabat tinggi UE dan NATO.
Fidan mengatakan bahwa apabila perjanjian perdamaian diteken, kesepakatan itu tidak hanya mengakhiri perang di Ukraina, tetapi juga akan membentuk hubungan jangka panjang antara Rusia dan Eropa serta mengarahkan kebijakan regional Rusia di era baru.
Turkiye siap ambil peran keamanan Laut Hitam
Fidan menegaskan bahwa Turkiye siap memikul tanggung jawab dalam komponen angkatan laut jika nantinya dibentuk mekanisme pemantauan gencatan senjata.
“Sebagai negara anggota NATO dengan armada terbesar di Laut Hitam, sudah sewajarnya Turkiye mengambil peran dalam menjaga keamanan kawasan,” katanya.
Ia menyebut sebagian besar pembahasan meliputi pemantauan gencatan senjata, mempertahankan kemampuan deterrence Ukraina, serta tindakan militer yang mungkin dibutuhkan jika kesepakatan dilanggar.
Selain isu keamanan, pertemuan juga membahas pemulihan ekonomi Ukraina. Fidan menekankan bahwa Turkiye memiliki kapasitas kuat dalam membantu rekonstruksi, khususnya di bidang infrastruktur.
Serangan Israel di Suriah dinilai provokatif
Fidan juga mengungkapkan pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani, yang berada di Paris untuk pertemuan trilateral dengan AS dan Israel. Ia mengatakan Ankara mengikuti pembicaraan tersebut secara dekat dan berkonsultasi dengan semua pihak.
Ia menyebut operasi militer Israel di Suriah sejak kejatuhan rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024 sebagai tindakan “provokatif” dan bagian dari “kebijakan ekspansionis dan pemecah belah” Israel di kawasan. “Kebijakan semacam itu sudah tidak dapat diterima lagi di wilayah kita,” ujar Fidan, seraya menambahkan bahwa negara-negara kawasan dan AS harus menilai situasi tersebut secara serius.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland dianggap upaya memecah kawasan
Menanggapi keputusan Israel mengakui wilayah Somaliland yang memisahkan diri dari Somalia, Fidan mengatakan langkah itu merupakan bagian dari proyek Israel untuk menciptakan ketidakstabilan. Ia menegaskan Turkiye selalu mendukung keutuhan wilayah Somalia sesuai resolusi PBB.
Fidan menyebut pengakuan Israel tersebut sebagai “tanda ketidaklegitiman”. Menurutnya, Turkiye telah menugaskan seorang duta besar sebagai mediator dalam sengketa internal Somalia dan Somaliland, namun menolak keras upaya pihak luar yang mencoba memecah wilayah negara berdaulat.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
