Iqbal Musyaffa
26 Agustus 2017•Update: 29 Agustus 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Mimpi rakyat Palestina untuk merdeka dan hidup tenang sepertinya harus melalui jalan panjang yang berliku. Pasalnya Israel akan melakukan segala cara untuk menghalangi perdamaian di kawasan itu.
Pelaksana Tugas (Plt) Duta Besar Palestina untuk Indonesia Taher Ibrahim Hamad mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Israel selalu mengidamkan peperangan.
“Negara Israel dibangun dengan teror. Mereka mencuri rumah, membunuh masyarakat, dan juga melakukan pembantaian di awal berdirinya negara itu tahun 1948. Sampai sekarang, mereka tidak pernah mengharapkan perdamaian,” ujar Hamad saat diwawancara Anadolu Agency di Jakarta baru-baru ini.
Dalam perbincangan yang dilakukan di kedutaan besar Palestina untuk Indonesia, Hamad mengisahkan bahwa Israel pernah membunuh perwakilan PBB di Palestina. Perwakilan PBB yang dimaksud adalah Folke Bernadotte asal Swedia pada 17 September 1948.
“Bahkan, mereka pun rela membunuh Yitzhak Rabin, perdana menterinya sendiri pada 4 November 1995 atau dua tahun setelah ia menandatangani perjanjian Oslo bersama Yasser Arafat,” lanjutnya.
Perjanjian Oslo merupakan perjanjian yang mengatur tentang keberadaan dua negara Palestina dan Israel. Pihak Israel dianggapnya tidak menghendaki negara Palestina berdiri hingga terjadilah pembunuhan tersebut.
Pembunuhan Rabin menurutnya sengaja dibiarkan oleh Israel. Yigal Amir sang pembunuh perdana menteri bisa menerobos penjagaan perdana menteri Israel dan menembaknya dari jarak dekat. Padahal pasukan keamanan dan intelijen Israel adalah salah satu yang terbaik.
Setelah penembakan bahkan tak ada satupun yang membawa Rabin ke rumah sakit, kecuali supir pribadinya. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, kendaraan mereka dihentikan berkali-kali oleh polisi karena sang supir mengemudi dengan kencang.
Setelah membunuh perdana menterinya sendiri, Israel kembali membunuh Yasser Arafat menggunakan racun 11 November 2004 silam.
Selain melakukan pembunuhan para tokoh perdamaian, menurut Hamad, Israel juga tidak menghendaki persatuan antara dua faksi besar Palestina; Hamas dan Fatah. Israel dituding sebagai dalang di balik konflik dan perpecahan di negara-negara Arab.
“David Ben Gurion perdana menteri pertama Israel menargetkan untuk menghancurkan tentara Irak, Suriah, dan Mesir. Dua sudah berhasil dan tinggal Mesir yang belum,” kata Hamad.
Kini Israel menggunakan Daesh untuk menghancurkan tentara Mesir dan hingga kini masih belum berhasil. Hamad yakin Israel merupakan negara yang paling bahagia bila ada perpecahan di Timur Tengah.
Kembali ke Palestina, kini rakyat Palestina hanya bisa terus berjuang dan berharap Israel mengubah kebijakannya dan menyetujui berdirinya dua negara yang berdampingan.
Dukungan internasional
Salah satu negara yang ingin Israel dan Palestina menjadi dua negara yang berdampingan adalah Rusia.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin mengatakan Rusia berada pada posisi yang sama dengan Indonesia untuk mendukung berdirinya negara Palestina berdampingan dengan Israel.
“Kita selalu berdiskusi dengan Indonesia terkait isu Timur Tengah dan bekerja sama untuk mencapai solusi berdirinya dua negara sebagai salah satu penyelesaian konflik di sana,” kata Galuzin.