Politik, Dunia, Olahraga

Mantan staf Arsenal Mark Bonnick lanjutkan gugatan usai dipecat karena kritik Israel

Mantan staf Arsenal Mark Bonnick mengatakan gugatan hukumnya masih berjalan setelah ia dipecat karena unggahan yang mengkritik Israel terkait Gaza

Yunus Kaymaz, Muhammad Abdullah Azzam  | 16.02.2026 - Update : 16.02.2026
Mantan staf Arsenal Mark Bonnick lanjutkan gugatan usai dipecat karena kritik Israel Mantan staf Arsenal Mark Bonnick.

LONDON

Mark Bonnick, mantan staf Arsenal yang dipecat setelah mengkritik Israel terkait situasi di Palestina, mengatakan perjuangan hukumnya terhadap klub Liga Inggris tersebut masih berlanjut dan menilai banyak pihak dibungkam ketika berbicara soal pendudukan Israel.

Bonnick, yang bekerja selama 22 tahun sebagai petugas perlengkapan di klub asal London Utara itu, diberhentikan pada Desember 2024 setelah unggahannya di media sosial mengkritik tindakan Israel di Gaza.

Dalam wawancara dengan Anadolu Agency, pria berusia 62 tahun itu mengatakan bahwa kritik terhadap kebijakan Israel sering kali langsung dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.

“Kita berbicara tentang apartheid di Afrika Selatan. Kita berbicara tentang pendudukan ilegal Rusia di Ukraina. Tetapi ketika kita berbicara tentang pendudukan ilegal dan rezim apartheid Zionis Israel, kita dibungkam,” kata Bonnick.

Ia menyebut proses hukum yang ia tempuh terhadap Arsenal masih berjalan dan akan memasuki tahap mediasi pada Juni mendatang. Namun, ia mengaku diberi tahu bahwa kasus tersebut bisa berlangsung hingga 2028.

“Ini memalukan. Cara Arsenal menangani proses ini tidak baik. Saya berharap mereka meninjau kembali bagaimana mereka mengelola situasi seperti ini, termasuk soal perundungan siber,” ujarnya.

Bonnick juga menolak tuduhan antisemitisme yang sempat mencuat dalam pemberitaan media. Ia mengatakan tidak ada bukti bahwa unggahannya bersifat antisemit.

“Tidak diragukan lagi, terbukti bahwa ini bukan antisemitisme. Itu semua omong kosong. Polisi tidak pernah mengetuk pintu saya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa komentar yang ia sampaikan bersifat politik dan tidak mengandung unsur kebencian terhadap komunitas tertentu.

Bonnick mengungkapkan bahwa Federasi Sepak Bola Inggris (FA) menilai komentarnya sebagai pernyataan “politis”, tetapi tidak menemukan pelanggaran terkait antisemitisme. Ia juga menyebut organisasi anti-diskriminasi Kick It Out tidak menemukan kesalahan dalam unggahannya.

Dalam proses disipliner internal klub, Bonnick mengatakan dirinya merasa tidak diberi ruang untuk menjelaskan posisi dan pendapatnya.

Ia juga menyoroti pernyataan Arsenal pada 2021 terkait pemain Mohamed Elneny, yang pernah menulis pesan dukungan untuk Palestina. Saat itu klub menyatakan para pemain memiliki hak untuk mengekspresikan pandangan pribadi mereka di media sosial, meski diingatkan soal sensitivitas.

Menurut Bonnick, perlakuan berbeda tersebut menjadi salah satu poin yang ia angkat dalam proses hukum.

Bonnick menambahkan bahwa banyak orang takut berbicara karena tekanan publik dan risiko konsekuensi profesional.

Kasus ini masih berlanjut dan menjadi sorotan dalam perdebatan lebih luas mengenai kebebasan berekspresi, isu Palestina, serta batasan sikap politik dalam dunia olahraga profesional Inggris.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın