Chandni
16 April 2018•Update: 17 April 2018
Hajer M'tiri
PARIS
Prancis meyakinkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar "tetap di Suriah untuk jangka panjang" dan membatasi serangan akhir pekan ini pada gudang senjata kimia saja, kata Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Minggu.
Pada Sabtu, Prancis berkoordinasi dengan AS dan Inggris untuk meluncurkan sejumlah serangan militer terhadap rezim Bashar al-Assad yang dituduh melakukan serangan senjata kimia di Douma, Ghouta Timur pada 7 April lalu.
"Sepuluh hari lalu, Donald Trump mengatakan AS ingin mundur dan kami membujuknya bahwa kami harus tetap di sana, kami juga menghimbaunya agar membatasi serangan terhadap gudang kimia saja," kata Macron dalam sebuah wawancara dengna media Prancis RMC, BFMTV, dan Mediapart.
Macron mengatakan serangan itu legal dan bertindak sebagai penerapan resolusi internasional, melaksanakan hukum internasional, serta bukan sebagai deklarasi perang terhadap rezim Assad.
"Prancis, seperti sekutu-sekutu kami, tidak mendeklarasi perang dengan rezim Bashar al-Assad, kami hanya memastikan agar hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB tidak sebatas kata-kata saja."
"Sekutu-sekutu kami memiliki bukti adanya penggunaan senjata kimia, dan kami memiliki bukti senjata itu digunakan oleh rezim Suriah, yang berujung dengan langkah ini," tambah Macron.
Pemimpin Prancis itu menuduh Rusia "sedikit demi sedikit melemahkan" komunitas internasional agar tidak bisa menerapkan perjanjian 2013 terkait senjata kimia Suriah dan mengatakan Moskow adalah "antek" rezim Assad.
Dia mengatakan guna mencari solusi jangka panjang untuk Suriah "perlu diadakan perundingan dengan Iran, Rusia, dan Turki".