Maria Elisa Hospita
28 Januari 2019•Update: 29 Januari 2019
Ali H. M.Abo Rezeg
KAIRO
Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menolak menanggapi kritik pejabat Italia soal kebijakan negaranya mengenai Libya yang dilanda perang.
"Saya tidak akan menanggapi, karena itulah yang mereka inginkan," kata Macron pada Minggu, di sela-sela kunjungannya selama dua hari ke Mesir.
"Orang-orang Italia adalah teman kami dan para pemimpin yang pantas yang menyamai sejarah mereka," tambah dia, seperti dilansir oleh France 24.
Pekan lalu, Wakil Perdana Menteri Italia Luigi di Maio menuding Prancis menjajah dan memiskinkan negara-negara di Afrika dengan menghubungkan krisis migran dengan kemiskinan yang disebabkan kolonialisme Prancis.
Sebagai tanggapan, Kementerian Luar Negeri Prancis pun memanggil duta besar Italia.
Macron dijadwalkan bertemu dengan Presiden Mesir Abdel-Fattah al-Sisi di Kairo pada Senin, di mana keduanya diperkirakan akan membahas masalah Libya.
Libya masih diliputi gejolak sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan kematian Presiden Muammar Gaddafi yang telah menjabat selama lebih dari empat dekade.
Sejak itu, perpecahan politik Libya menghasilkan dua kursi kekuasaan yang saling bersaing - satu di Tobruk dan satu lagi di Tripoli - dan sejumlah kelompok milisi bersenjata.