Rhany Chairunissa Rufinaldo
13 Mei 2020•Update: 13 Mei 2020
Enes Canli
TRIPOLI
Libya pada Selasa mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil sikap terhadap serangan roket oleh pasukan panglima perang Khalifa Haftar yang menyerang dekat dengan misi asing Turki dan Italia di Tripoli.
"Serangan-serangan milisi Haftar melanggar Konvensi Wina, sehingga PBB harus mengambil tindakan sejalan dengan tanggung jawab historisnya untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas," kata sepucuk surat oleh Menteri Luar Negeri Libya Mohamed Taha Siala kepada Dewan Keamanan PBB.
Pekan lalu, pasukan Khalifa melancarkan serangan roket ke Bandara Mitiga dan Pelabuhan Tripoli sementara beberapa dari mereka menyerang dekat permukiman misi asing Turki dan Italia.
Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan serangan itu merupakan kejahatan perang, menambahkan bahwa menyerang misi Turki dapat menjadikan pasukan Haftar target yang sah bagi Turki.
Selama Mei ini, pasukan Haftar telah menewaskan lebih dari 20 warga sipil dengan ratusan serangan roket di berbagai daerah di Ibu Kota Tripoli.
Haftar, pemimpin pasukan bersenjata ilegal di Libya timur, mengintensifkan serangan terhadap warga sipil ketika tentara Libya baru-baru ini meraih kemenangan dan menimbulkan kerugian besar pada militannya.
Pasukan Haftar melancarkan serangan ke pemerintah Libya sejak April 2019, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Pemerintah Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk melawan serangan-serangan di ibu kota.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.