Muhammad Abdullah Azzam
23 Juni 2020•Update: 23 Juni 2020
Mustafa Haboush
TRIPOLI
Dewan Tinggi Libya pada Senin memperingatkan tentara Mesir terkait spekulasi militer berisiko tinggi di negara yang dilanda konflik.
Peringatan itu datang dua hari setelah Presiden Mesir Abdel-Fatah al-Sisi mengungkapkan Kairo dapat meluncurkan "misi militer eksternal" ke Libya "jika diperlukan." al-Sisi juga mengingatkan pasukannya untuk siap melakukan misi "jika perlu di luar perbatasan."
"Kami mendesak tentara Mesir untuk tidak diseret ke dalam pertaruhan, yang nasibnya akan mirip dengan pertaruhan sebelumnya seperti kasus di Yaman," kata dewan Libya dalam sebuah pernyataan.
Pada 1960-an, Mesir mengirim pasukan ke Yaman untuk mendukung revolusi melawan pemerintahan Kerajaan Mutawakkilite, yang kemudian berubah menjadi perang saudara antara mereka yang setia kepada kerajaan dan loyalis pemerintah republik.
Meskipun perang berakhir dengan kemenangan Republik, Arab Saudi melelahkan pasukan Mesir dengan mendukung kerajaan, yang mengakibatkan Mesir kehilangan Perang Tiga Hari 1967 dengan Israel, kata para sejarawan.
Dewan Libya mengecam seruan al-Sisi untuk pelatihan dan mempersenjatai anggota suku Libya sebagai "upaya untuk menyulut hasutan dan menjatuhkan warga Libya satu sama lain."
"Libya adalah negara merdeka dan berdaulat, dan merupakan tugas pemerintah sah Libya untuk memperluas kontrolnya atas seluruh wilayah Libya," kata mereka.
Dewan kemudian mengutuk dukungan Aguila Saleh, ketua parlemen yang berpusat di Libya timur, atas pernyataan al-Sisi tentang intervensi militer di Libya.
"Intervensi Mesir di Libya berlangsung selama enam tahun terakhir dengan cara yang memecahbelah, serta memperburuk situasi keamanan, politik, ekonomi, dan sosial secara serius di Libya", kata dewan itu.
PBB mengakui pemerintah Libya yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj sebagai otoritas yang sah negara itu saat Tripoli memerangi milisi jenderal Khalifa Haftar.
Pemerintah meluncurkan Operasi Badai Perdamaian terhadap Haftar pada Maret untuk melawan serangan di ibu kota, Tripoli, dan baru-baru ini membebaskan lokasi-lokasi strategis, termasuk Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat.
Mereka juga mengutuk dukungan militer dari Mesir, UEA, Prancis dan Rusia terhadap serangan Haftar di Tripoli, yang dimulai pada April 2019.