Maria Elisa Hospita
16 Desember 2019•Update: 16 Desember 2019
Ammar al-Khalfi
TRIPOLI
Militer Libya membantah laporan-laporan tentang jatuhnya ibu kota Tripoli ke tangan pasukan yang dipimpin oleh Khalifa Haftar, komandan di Libya Timur.
"Kami masih menguasai situasi di lapangan," ungkap juru bicara militer Mohamed Qanunu kepada Anadolu Agency, pada Senin.
"Namun, yang menderita serangan udara oleh Haftar dalam beberapa bulan terakhir adalah warga sipil," kata dia lagi.
Pada April, Haftar meluncurkan kampanye besar-besaran untuk merebut Tripoli, yang merupakan basis Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB.
Qanunu menuding Haftar memakai tentara bayaran dari Afrika dan Rusia dalam serangannya di Tripoli.
Pada 7 November, pemerintah Libya yang berbasis di Ankara dan Tripoli menyepakati dua nota kesepahaman (MoU), tentang kerja sama militer dan batas-batas maritim di Mediterania Timur.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan baru-baru ini mengatakan bahwa Ankara akan mempertimbangkan mengirim pasukan ke Libya jika GNA mengajukan permintaan semacam itu.
"Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat antara GNA dan Ankara, kami rasa dukungan logistik sudah cukup membantu," kata Qanunu.
Libya dilanda gejolak sejak tahun 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan lengsernya mendiang Presiden Muammar Khadaffi yang telah menjabat lebih dari empat dekade.
* Bassel Barakat turut melaporkan dari Ankara