30 Juli 2026•Update: 30 Juli 2026
Ekonomi Arab Saudi mengalami kontraksi sebesar 4,8 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, menjadi penurunan terdalam sejak pandemi Covid-19.
Pelemahan tajam di sektor minyak menghapus pertumbuhan terbatas pada sektor nonmigas dan sektor pemerintahan, menurut estimasi awal yang dirilis Otoritas Umum Statistik Arab Saudi pada Kamis.
Angka tersebut berbalik tajam dibandingkan kuartal I 2026, ketika produk domestik bruto (PDB) riil Arab Saudi masih tumbuh 3 persen secara tahunan.
Otoritas tersebut menyatakan aktivitas sektor minyak anjlok 24,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, aktivitas sektor nonmigas hanya tumbuh 0,6 persen dan sektor pemerintahan meningkat 0,9 persen.
Sektor minyak mengurangi pertumbuhan PDB tahunan sebesar 5,4 poin persentase. Sebaliknya, sektor nonmigas menyumbang 0,4 poin persentase, sedangkan sektor pemerintahan dan pajak bersih atas produk masing-masing memberikan kontribusi 0,1 poin persentase.
Kontraksi juga terjadi secara kuartalan
Berdasarkan penyesuaian musiman, PDB riil Arab Saudi turun 4,9 persen pada kuartal II dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Penurunan tersebut terutama dipicu kontraksi 21,5 persen pada sektor minyak. Aktivitas nonmigas turun 0,5 persen, sedangkan sektor pemerintahan masih mencatat pertumbuhan tipis sebesar 0,2 persen.
Sektor minyak menjadi penyumbang terbesar penurunan PDB kuartalan dengan kontribusi negatif sebesar 4,5 poin persentase. Aktivitas nonmigas dan pajak bersih atas produk masing-masing mengurangi pertumbuhan sebesar 0,3 dan 0,1 poin persentase.
Perang Timur Tengah tekan ekspor minyak
Otoritas Statistik Arab Saudi menjelaskan estimasi tersebut disusun berdasarkan indikator produksi, pengeluaran, pendapatan, harga, dan perdagangan luar negeri, serta biasanya dirilis sekitar 30 hari setelah berakhirnya setiap kuartal.
Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut perang di Timur Tengah dan hampir terhentinya pelayaran melalui Selat Hormuz telah mengganggu perdagangan dan ekspor minyak Arab Saudi.
Meski demikian, IMF menilai pengalihan pengiriman minyak mentah melalui pipa East-West menuju pelabuhan di Laut Merah membantu membatasi penurunan volume ekspor, sementara kenaikan harga minyak dunia turut mengompensasi berkurangnya jumlah ekspor.
IMF memperkirakan ekonomi Arab Saudi masih akan tumbuh 1,7 persen pada 2026 sebelum meningkat menjadi 5,5 persen pada 2027, dengan asumsi produksi energi dan transportasi maritim berangsur pulih.