Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
07 Januari 2020•Update: 08 Januari 2020
James Tasamba
KIGALI, Rwanda
Militer Kongo pada Senin mengatakan lebih dari 200 milisi menyerah sejak 3 Januari ketika tindakan keras terhadap kelompok-kelompok bersenjata di bagian timur negara itu terus berlanjut.
Tentara memulai serangan terhadap sebuah milisi terkenal bernama Koperasi Pembangunan Kongo (CODECO) yang beroperasi di Provinsi Ituri Jumat lalu.
Operasi tersebut merupakan bagian dari operasi besar yang diluncurkan pada Oktober.
"Lebih dari 200 anggota milisi dari CODECO telah menyerah kepada pasukan pemerintah sejak 3 Januari , tetapi tentara tetap bertekad untuk melanjutkan operasinya untuk menetralisir milisi yang dituduh melakukan kekejaman ini," kata Jenderal Chiviri Hamuli, komandan provinsi pasukan di Ituri, pada sebuah konferensi pers.
Hamuli meminta unsur-unsur lain dari milisi CODECO berkumpul di tempat transit untuk menghindari pengejaran oleh tentara.
Dia mengatakan sejumlah daerah yang sebelumnya ditempati oleh milisi telah direbut kembali oleh pasukan pemerintah.
"Kelompok milisi ini membunuh warga sipil, menyerang tentara kita," ujar Hamuli.
Dia menambahkan bahwa 16 milisi tewas dan tiga lainnya ditangkap pada Minggu.
Sang jenderal mencatat bahwa tentara tidak akan duduk diam sementara milisi membantai warga sipil yang tidak bersalah.
“Kami telah menyerang mereka… Ketika kami menetralisirnya, mereka mengingatkan kami tentang hak-hak yang mereka langgar, situasi yang cukup rumit. Tetapi untuk menghindari tembakan, mereka harus dengan tenang berkumpul di tempat transit di [kota] Kpandroma," tutur Hamuli.
Menurut tentara, operasi penumpasan itu menargetkan dua desa - Ngongo di Djugu dan Lipri di wilayah Irumu - keduanya terletak sekitar 40 kilometer dari ibu kota Provinsi Bunia.
Kekerasan bersenjata meletus di wilayah Djugu pada Desember 2017, menimbulkan korban jiwa dan memaksa ribuan warga sipil mengungsi dari rumah mereka.
Pemerintah setempat menuduh kelompok milisi bertanggung jawab atas kematian 160 warga sipil Juni lalu dan memaksa lebih dari 300.000 orang di Djugu mengungsi.
Saat ini, operasi militer besar sedang berlangsung di Provinsi Kivu Utara, di mana ratusan orang terbunuh oleh kelompok pemberontak Uganda Pasukan Sekutu Demokrasi (ADF).