Maria Elisa Hospita
06 September 2018•Update: 07 September 2018
Sena Guler
ANKARA
Uni Eropa menyambut baik gencatan senjata yang diprakarsai oleh PBB di Tripoli, Libya, antara kelompok-kelompok milisi yang saling berseteru sejak akhir Agustus.
"Gencatan senjata yang disepakati kemarin antara sejumlah kelompok milisi di bawah pengawasan Representatif Khusus untuk Sekretaris Jenderal PBB untuk Libya Ghassan Salame merupakan langkah yang harus disambut baik dan harus mengarah pada de-eskalasi kekerasan di dalam dan sekitar Tripoli," ujar juru bicara Uni Eropa urusan luar negeri Maja Kocijancic dalam sebuah pernyataan.
Kocijancic meminta semua pihak yang terlibat "untuk sepenuhnya menghormati perjanjian dalam semangat kompromi dan demi kepentingan rakyat Libya".
Dia juga menegaskan bahwa UE akan terus mendukung proses mediasi yang dipimpin PBB untuk memberikan "solusi abadi bagi krisis politik di Libya".
Pada Selasa, PBB mengumumkan bahwa perjanjian gencatan senjata telah disepakati oleh kelompok-kelompok milisi yang saling bertikai.
Mereka setuju untuk menghentikan semua permusuhan, serta memastikan agar keselamatan warga sipil tidak terancam dan hak asasi manusia dihormati.
Sebelumnya, pada Minggu, pemerintah persatuan yang didukung PBB mengumumkan masa darurat di Tripoli dan daerah sekitarnya karena bentrokan antara kelompok-kelompok milisi, yang menewaskan sedikitnya 38 orang.
Beberapa pemerintah Negara Barat mengeluarkan seruan untuk mengakhiri kekerasan, yang meletus setelah Brigade Infanteri Ketujuh (berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan) menuduh Brigade Revolusi Tripoli (berafiliasi dengan Kementerian Dalam Negeri) menyerang posisinya di selatan Tripoli.
Libya telah dirundung gejolak sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menggulingkan pemerintahan dan menewaskan Muammar Gaddafi setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu, divisi politik Libya telah menyebabkan dua kubu kekuasaan saling bersaing - satu di Tobruk dan satu lagi di Tripoli - dan sejumlah kelompok milisi bersenjata.