Rhany Chairunissa Rufinaldo
08 Februari 2019•Update: 10 Februari 2019
Beyza Binnur Donmez
ANKARA
Krisis pemerintahan yang sedang berlangsung di Venezuela telah membagi dunia menjadi dua kubu.
Venezuela diguncang oleh protes sejak 10 Januari, ketika Presiden Nicolas Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua setelah pemungutan suara yang diboikot oleh oposisi.
Ketegangan meningkat di seluruh negeri ketika pemimpin oposisi Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden pada 23 Januari.
Amerika
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang mengakui Guaido, pemimpin Majelis Nasional yang dipimpin oposisi Venezuela, sebagai presiden sementara negara tersebut
Brazil dan Organisasi Negara-negara Amerika mengakui Guaido sebagai pemimpin Venezuela sebelum pengumuman resminya.
Argentina, Kanada, Chile, Kolombia, Kosta Rika, Ekuador, Guatemala, Panama, Honduras, Peru dan Paraguay juga mengikuti langkah tersebut.
Sementara itu, Bolivia, Kuba, dan Meksiko adalah satu-satunya negara di kawasan itu yang tetap mengakui kepresidenan Maduro sebagai sekutu kiri.
Meksiko, yang pernah menjadi anggota Grup Lima, juga bersedia menjadi penengah dalam konflik politik Venezuela.
Grup Lima adalah badan dari 12 negara Amerika Latin.
Negara-negara Uni Eropa
Sebanyak 19 negara anggota Uni Eropa termasuk Spanyol, Jerman, Prancis dan Inggris pada Senin bergabung untuk mengakui Guaido sebagai presiden, setelah periode delapan hari untuk menyelenggarakan pemilihan umum yang bebas, demokratis dan transparan di Venezuela berakhir.
Negara lain yang mengakui Guaido sebagai presiden sementara adalah Portugal, Denmark, Belanda, Hongaria, Austria, Finlandia, Belgia, Luksemburg, Republik Ceko, Latvia, Lituania, Estonia, Polandia, Swedia dan Kroasia.
Hanya dua negara di Eropa - Italia dan Yunani - yang menentang pernyataan posisi bersama dengan UE yang mendukung Guaido.
Wakil Perdana Menteri Italia Luigi Di Maio membela penolakannya untuk mendukung Guaido, meskipun ada perbedaan dalam pemerintahan koalisi yang berkuasa di Italia, dengan mengatakan bahwa dia belum dipilih oleh rakyat Venezuela.
Georgios Katrougalos, penjabat Menteri Luar Negeri Yunani, juga mengatakan bahwa solusi untuk krisis saat ini adalah dialog.
Israel dan Australia juga mengakui Guaido sebagai penjabat presiden.
Dukungan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyuarakan solidaritas dengan Maduro, sehari setelah langkah AS mendukung Guaido, mengatakan bahwa Turki tidak pernah berpihak pada komplotan kudeta.
Rusia dan China menentang seruan AS untuk mendukung Guaido dan mengutuk segala campur tangan dalam urusan internal Venezuela.
Iran kemudian juga menyatakan dukungannya terhadap Maduro.
"Iran menentang semua campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Venezuela," Bahram Qasemi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, Utusan Afrika Selatan untuk Dewan Keamanan PBB mengatakan negaranya menentang setiap upaya perubahan yang tidak semestinya atau tidak konstitusional dari pemerintah di Venezuela.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada Senin bahwa PBB tidak akan bergabung dengan pihak mana pun dalam diskusi terkait krisis politik di Venezuela.
Benedict Wachira, kepala Partai Komunis Kenya (CPK), mengutuk intervensi AS di Venezuela, menyebutnya salah dan tidak diplomatis.
Sedangkan India, menyerukan dialog di antara para pemangku kepentingan di Venezuela, sementara Palestina menggambarkan deklarasi diri Guaido sebagai upaya kudeta dan memberikan dukungannya untuk Presiden Maduro.