JENEWA
Organisasi jurnalis internasional yang berbasis di Jenewa, Press Emblem Campaign (PEC) pada Selasa memperingatkan wartawan asing di Ukraina yang bekerja di daerah yang ditinggalkan pasukan Rusia agar berhati-hati karena sembilan wartawan tewas sejak dimulainya perang Rusia-Ukraina pada 24 Februari.
Komisi Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mengatakan pihaknya mencatat 1.480 kematian warga sipil, termasuk 61 anak-anak, di negara itu, dan 2.195 terluka, tetapi menambahkan bahwa jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi.
Sebagian besar korban sipil yang tercatat disebabkan oleh senjata peledak dengan area dampak yang luas, termasuk penembakan peluru artileri berat dan sistem peluncuran roket dan rudal.
"OHCHR percaya bahwa angka sebenarnya jauh lebih tinggi, karena penerimaan informasi tertunda dari beberapa lokasi di wilayah pertempuran intens," kata kantor HAM.
Kantor Hak Asasi Manusia juga mencatat laporan Kantor Kejaksaan Agung Ukraina, yang menyebutkan 165 anak tewas dan 266 terluka.
PEC mengatakan bahwa dalam 40 hari setelah Rusia melancarkan perang terhadap Ukraina, sembilan wartawan lokal dan internasional tewas, sementara puluhan lainnya terluka.
"Para penjajah menculik dua wartawan. Seorang guru jurnalistik dan seorang pembuat film dokumenter juga tewas," tambah organisasi itu.
"Press Emblem Campaign mengutuk pembunuhan jurnalis foto Ukraina, fotografer dokumenter Maks Levin, berusia 40 tahun, ditemukan tewas di dekat desa Huta Mezhyhirska di wilayah Kyiv pada hari Jumat," kata PEC.
Menurut informasi awal yang dirilis oleh layanan pers Kantor Kejaksaan Agung Ukraina, Levin yang tidak bersenjata dibunuh oleh Angkatan Bersenjata Rusia.
"Wartawan asing harus berhati-hati saat bekerja di daerah yang baru-baru ini dibebaskan dari penjajah Rusia," kata PEC juga.
PEC menambahkan bahwa tidak aman untuk bekerja di timur Ukraina di wilayah Lugansk dan Donetsk.
Juga dilaporkan bahwa pada 3 April, Dinas Keamanan Ukraina mengusir jurnalis Belanda Robert Dulmers.
Dia dicabut akreditasinya dan dikeluarkan karena melanggar persyaratan untuk menerbitkan foto dan video serangan roket di Odessa dengan memposting penembakan di akun Twitter-nya segera setelah serangan rudal.
Pihak berwenang mengatakan publikasinya berisi informasi yang memungkinkan untuk mengidentifikasi lokasi yang tepat dari serangan rudal.