Maria Elisa Hospita
27 Desember 2018•Update: 27 Desember 2018
Mohammed Amin
KHARTOUM
Jurnalis Sudan memulai unjuk rasa tiga hari untuk memprotes pemerintah yang berupaya menyensor liputan aksi protes yang telah mengguncang negara itu selama satu pekan terakhir.
Lewat sebuah pernyataan, Jaringan Jurnalis Sudan (SJN), mengungkapkan aparat keamanan Sudan berusaha menghentikan surat kabar lokal untuk meliput aksi protes yang sedang berlangsung, yang dalam beberapa kasus disertai tindak kekerasan.
"Kami sangat prihatin dengan rekan-rekan kami yang menerima tindakan agresif [yang telah kami saksikan] sejak gelombang protes dimulai. Sembilan rekan kami mengalami kekerasan - termasuk penangkapan, penahanan, dan penyiksaan - saat meliput demonstrasi," papar SJN.
"Karena itu kami memulai unjuk rasa selama tiga hari ke depan untuk menuntut pemerintah agar menghormati hak kebebasan berekspresi," kata SJN.
Kelompok jurnalis itu juga menuturkan bahwa beberapa koresponden media asing telah berhenti meliput aksi protes. Beberapa dari mereka bahkan diperintahkan untuk meninggalkan Sudan.
Khalid Fathi, pemimpin redaksi surat kabar Al-Tayyar, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dirinya diserang polisi pada Selasa ketika meliput demonstrasi di Khartoum.
Fathi menderita cedera kaki setelah polisi menyemburkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran.
Pada Selasa, pasukan keamanan Sudan membubarkan ribuan pengunjuk rasa yang berkumpul di Khartoum menuntut pengunduran diri Presiden Omar al-Bashir. Mereka juga memprotes melonjaknya harga komoditas dan krisis bahan makanan.
Kemudian, pada Kamis, Sudan Media Agency melaporkan bahwa sejumlah pejabat negara – termasuk perdana Menteri – mengembalikan kendaraan dinas mereka ke Dewan Menteri sebagai bagian dari pembatasan pengeluaran pemerintah.